-->

18 Oktober 2012

Warisan Cinta di Abad 21



الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه
وسلم تسليما كثيراً


Berikut 50 indikasi seorang muslimah ataupun muslim terjangkiti virus-virus artis korea:
  1. Meng-like page/halaman salah satu artis/aktor korea.
  2. Luapan kekaguman dipublikasikan via status.
  3. Lagu-lagu korea, meskipun tak dipahami, dijadikan dzikir di lisan
  4. Mengganti foto profile dengan foto-foto mereka.
  5. Mempelajari bahasa korea tanpa tujuan yang jelas.
  6. Mengikuti perkembangan berita mereka.
  7. Mengoleksi foto-foto mereka, apalagi yang beredar di Facebook.
  8. Membayangkan atau menghayal menjadi pasangan mereka.
  9. Hati begitu bahagia menatap wajah mereka. Ini diikuti senyum tak jelas.
10.  Menangis jika acara/film mereka terlewatkan
11.  Begitu setia menonton film mereka walaupun menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan puluhan episode.
12.  Mengikuti konser mereka.
13.  Tiket konser, walaupun mahal dengan harga yang variasi, akan laris dan akan segera habis.
14.  Begitu ridha dan ikhlas menanti di antrian pembelian tiket walaupun suasana membludak.
15.  Histeris dan meneteskan air mata bahagia melihat wajah sang aktor yang terlihat tampan.
16. Tak sedikit adegan foto sang aktor sedang berciuman dengan pemain wanita. Lantas para muslimah akan bertutur dengan penuh harap: “seandainya aku.”
17.  Mata mereka lebih berbinar cerah memandang wajah sang aktor.
18.  Nama akun facebook menggunakan nama sang aktor atau istilah-istilah dalam bahasa korea.
19.  Tiada hari tanpa gosip tentang mereka.
20.  Judul-judul film mereka menjadi hafalan di luar kepala.

21.  Pada tahap ngefans yang akut, ada yang yang melakukan operasi plastik agar wajah lebih mirip tampilan korea.
22. Begitu juga mode pakaian termasuk topi, switer, menjadi incaran walaupun harus mencarinya di rombengan.
23. Berlangganan majalah/tabloid yang khusus membicarakan tentang artis/aktor korea.                           
24. Mode-mode yang mereka gunakan akan menjadi tren dan menjadi buruan karena dianggap standar kemewahan.
25. Termasuk dalam mode tersebut adalah celana. Bagi laki-laki dan wanita di zaman ini, celana pensil adalah lambang “gaul”.
27. Gaya rambut baik style maupun warna pun diteladani.
28. Begitu pula dengan gaya jalan. Para artis/aktor memiliki gaya khas dalam berjalan sesuai dengan peran mereka masing-masing dalam drama korea. Ini juga yang ditiru anak muda.
29. Cara mereka berfose ketika di depan kamera. Ini pun ditiru.
30. Status-status facebook yang dipenuhi bahasa korea namun tidak dipahami.

31. Foto-foto mereka dari koran/majalah/tabloid dikumpulkan lalu dirangkai menjadi sebuah kliping.
32. Foto-foto mereka yang tersebar di internet akan di print kemudian dijadikan album dan dipampang di kamar-kamar. Ini menjadi pelipur hati bagi muslimah.
33. “Cium jauh.” Jemari muslimah akan mengelus-ngelus foto mereka, bahkan mencium foto mereka. Didekaplah di dada.
34. Mengikuti kontes-kontes maupun lomba atau sejenisnya dengan hadiah bertemu sang idola baik di Indonesia maupun di Korea.
35. Semakin memburu alat-alat kosmetik agar kulit tubuh maupun wajah lebih “cingklong” seperti sang idola.
36. Terkadang keinginan bertemu dengan mereka terbawa sampai alam mimpi.
37. Lebih senang mendengar lagu korea.
38. Mengoleksi film-film korea? Tentu saja.
39. Lebih sering ikut fitnes biar badan lebih kekar dan tinggi.
40. Handphone di-setting menggunakan bahasa korea.

41. Begitu pula nada dering atau nada tunggu, menggunakan lagu korea.
42. Melakukan diet agar tampil langsing seperti artis idola.
43. Majelis gosip? Kapan sih wanita tak pernah bergosip ria. “eh, di film yang kemarin dia gagah lho, tapi kok di film ini kurang macoo y?”
44. Hati tak sabar menanti episode demi episode.
45. Hati tak tenang menunggu serial terbaru dirilis.
46. Memantau jadwal tayang di bioskop.
47. Tertarik untuk melakoni pacaran.
48. Memanggil nama pacar dengan nama sang aktor.
49. Menghayal tingkat tinggi karena tersihir senyuman manis sang aktor. Mereka menghayalkan sang artis mendatangi mereka lalu mengecup keningnya.
50. Menghayal menjadi artis/aktor dan ikut bermain peran film bersama sang idola. Bahkan karena melihat cantik sang artis, mereka menghayal melepaskan jilbabnya agar kecantikan diekspos.

Ini menandakan parahnya kualitas cinta. Slogan mencintai Allah dan Rasul-Nya tetap ada namun mulai terkikis dan lenyap oleh deretan nama-nama sang aktor. Inilah bius-bius cinta yang menyihir. Secara perlahan atau cepat akan mengikis kualitas iman apalagi pada saat yang sama banyak kewajiab syar’i terbengkalai dan menumpuknya pelanggaran etika syar’i.


>>Engkau yang Begitu Kucintai

‘Umar bin Al-Khaththab, begitu besar cintanya untuk sang Nabi. Suatu ketika, ia beranikan diri katakan cinta kepada beliau. Ungkapannya terekam apik dalam Shahih Al-Bukhari:

يا رسول الله لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي

“Wahai Rasulullah, demi Allah, setelah diriku sendiri, engkau benar-benar orang yang paling kucintai dari segalanya.”

Dengarlah dendang cinta ‘Umar. Dia bersumpah. Dia bersumpah. Dia bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah adalah pihak kedua yang paling ia cintai setelah ia mencintai dirinya sendiri. ‘Umar memposisikan Rasululllah pada urutan cinta nomor dua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menukas:

لا يا عمر حتى أكون أحب إليك من نفسك

“Tidak, wahai ‘Umar, mestinya akulah yang paling engkau cintai melebihi cintamu kepada diri sendiri.”


Segeralah ‘Umar menata kembali urutan cintanya. ‘Umar bertutur:

والذي بعثك بالحق لأنت أحب إلي من نفسي.
“Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Kini, engkaulah yang paling aku cintai melebihi kecintaanku pada diriku sendiri.” 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun membenarkannya dengan berkata:

الآن يا عمر

“Sekarang, benarlah engkau wahai ‘Umar.”[1]


Allahu Akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Inilah gemuruh cinta ‘Umar di samudera hatinya. Ia dendangkan cinta yang jujur nan berkekuatan. Cinta ini begitu tulus. Cinta ini begitu lembut. Sejuk hati mendengarnya. Sejuk hati mengutarakannya. ‘Umar, dalam waktu sekejap, mampu memindahkan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang paling ia cinta.

‘Umar tak butuh waktu lama. Ia tak butuhkan proses berpikir untuk menimbang dan mengambil keputusan. Ia mampu menggeser dan mengenyampingkan kecintaan terhadap diri sendiri di bawah kecintaan tulusnya untuk sang Nabi. Sekali lagi, begitu berkekuatannya cinta yang berkelas ini.

Apakah para muslimah mampu mengubah kekagumannya dan menjadikan sang Nabi sebagai idola/panutan pada rank teratas lalu mengubur kekaguman terhadap wajah-wajah lelaki tampan itu??


>>Aqidah Cinta yang Salah Arah


Ada sebuah cinta yang tak banyak diketahui oleh muslimah umumnya saat ini yaitu kecintaan kepada Sahabat Nabi.  Para Sahabat Nabi diberikan keistimewaan oleh Allah berupa ilmu dan keyakinan yang benar. Mereka adalah manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada setelahnya. Para Sahabat Nabi adalah orang-orang pilihan pada generasi pilihan pula. Mereka adalah umat yang dimuliakan oleh Allah.

Allah berfirman tentang kaum Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Manusia terbaik adalah pada masaku ini kemudian (ada) pada masa setelahnya (masa tabi’in) dan kemudian (ada) pada masa setelahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”[2]

Tak hanya memberikan pujian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan kecaman kepada siapapun yang mencaci para Sahabat. Beliau bertutur:

لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ، ولا نصيفه.

“Janganlah kalian membenci sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka ini tak akan mampu mencapai nilai infaq yang mereka keluarkan walau satu Mudd [sepenuh dua telapak tangan] dan tak juga mencapai separuhnya.”[3]


Inilah salah satu aqidah yang harus dipegang teguh dan dilakoni. Ahlussunnah waljama’ah menetapkan bahwa wajib mencintai sahabat Nabi.

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili mengungkapkan:

“Diantara pokok Ahlussunnah wal jama’ah adalah adalah mencintai Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ridha dan berloyalitas kepada mereka, mendoakan dan meminta ampun untuk mereka, meyakini keutamaan mereka melebihi umat lain, berlepas diri dari pihak yang menghujat dan mencaci sahabat baik (sekte) Rafidhah maupun Nawaashib.”[4] 


Kecintaan terhadap Sahabat Nabi terkomposisi dalam dua hal[5]:
  1. Kecintaan terhadap mereka sebagai seorang muslim/mukmin secara umum.
  2. Kecintaan terhadap mereka sebagai sosok-sosok yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Cinta pada poin ke-dua ini disarikan dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits beserta penjelasan para ulama seperti kutipan nash-nash di atas.
Poin ke-dua inilah yang merupakan salah satu pokok penting dalam Islam dan dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab aqidah maupun manhaj. Inilah salah satu cinta yang benar dan terarah nan berbuah pahala. Inilah salah satu rel-rel cinta yang mesti dilalui karena ia ‘kan berujung bahagia.


>>Saling Mewarisi Cinta

Dahulu, para salaf saling mewarisi kecintaan. Mereka ajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakr dan Umar, sebagaimana mereka mengajarkan al-Qur’an kepada sang buah hati. Imam malik bertutur:

كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر و عمر كما يعلمون السورة من القرآن

“Dahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka mencintai Abu Bakr dan Umar sebagaimana mengajarkan surat dalam Al-Qur-an.”[6]

Inilah mereka mewarisi aqidah cinta untuk anak-anak mereka sehingga kelak mereka tumbuh dalam naungan cinta teruntuk para Sahabat Nabi.

Apakah aqidah cinta ini telah diarahkan dengan benar oleh para muslimah? Atau terarahkan dengan sempurna menuju wajah-wajah lelaki cantik itu?
Apakah para muslimah saling mewarisi aqidah cinta ini ataukah mereka saling mewarisi gossip tentang aktor idola?

Apakah cinta mereka kepada sang artis/aktor akan membuahkan keimanan? Akankah ia mendatangkan pahala?

Akankah cinta ini mampu melabuhkan mereka berada di taman-taman surga? Jika tidak maka mereka telah berkubang dan terbius cinta semu: cinta yang menjadikan pemiliknya menghayal dan membuahkan maksiat.


>>Kebersamaan Cinta


Cinta mengharuskan raga bersama orang-orang yang dicintai. Begitu gersang rasanya hati jika yang dicinta berada jauh dari pandangan mata.

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya kepada beliau:

يا رسول الله كيف تقول في رجل أحب قوما ولم يلحق بهم

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang seorang pemuda yang mencintai suatu kaum namun mereka tak bertemu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

المرء مع من أحب

“Seseorang akan bersama orang yang cintai.”[7]


Bisa jadi dan sangat mungkin mereka tak akan mengakui bahwa mereka tak mencintai sang aktor namun indikasi-indikasi cinta ini ada dan terlihat nyata. Kelak, kecintaan kepada sang aktor korea dan aktor-aktor lainnya akan menjadikan mereka, sang pecinta, bersama pihak-pihak yang mereka cintai yaitu pihak-pihak yang menjadi muara persembahan cinta.

Sebaliknya, mereka yang membuktikan cinta tulusnya kepada sang Nabi beserta Sahabatnya, kelak akan berbahagia. Mereka akan menikmati pada episode kehidupannya selanjutnya di Surga. Insya Allah.


>>Para Wanita, Artis Korea dan Dajjal

Para artis korea telah mampu membius muslimah. Mereka, para artis korea itu, memiliki kelebihan-kelebihan yang sifatnya manusiawi. Artinya, ketampanan, wajah yang imut, suara yang merdu, dan tetek bengek lainnya sangat mungkin dan bahkan dimiliki pula oleh orang lain di lain tempat dan waktu. Walaupun demikian, wanita-wanita muslimah telah terpesona, terpukau dan tersihir.

Lantas, hubungannya dengan Dajjal?

Dajjal adalah fitnah (ujian) yang paling besar semenjak Allah ‘azza wajalla menurunkan nabi Adam ‘alaihissalam hingga menjelang hari kiamat. Dajjal memiliki kelebihan di luar batas kemampuan manusia.

Atas izin Allah, Dajjal mampu memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu menumbuhkan tetanaman yang segera menghijaukan bumi pertiwi. Pada saat yang sama pula, dia mampu menjadikan musim semi itu menjadi musim kemarau yang tiada berhujan karena memang dia juga mampu menahan hujan hingga tetumbuhan dan hewan-hewan akan mati di masa-masa kedatangannya di akhir zaman.

Dajjal mampu menghidupkan manusia yang ada di kuburan maupun orang-orang yang dibunuhnya. Dia mampu mengeluarkan kekayaan dari perut bumi yang membuat manusia terpukau dan terpesona. Lebih dari itu, ia membawa dua sungai di tangannya, sungai bermata air jenih dan sungai api. Ia mampu terbang dengan kecapatan yang luar biasa untuk mengelilingi dan menyinggahi seluruh pelosok bumi kecuali Mekkah dan Madinah yang dijaga para malaikat.

Dengan kelebihan itulah manusia terhipnotis, tersihir, terpukau sehingga menjadi pengikut Dajjal, terlebih dari kalangan para wanita. Iya, para wanita, adik-adik, kakak-kakak, istri-istri kaum muslimin kecuali mereka yang dirahmati Allah.

“Kebanyakan pengikut Dajjal,” tutur Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl dalam kitabnya Asyratus Sa'ah, “adalah orang-orang Yahudi, orang Ajam (non arab), orang Turki, dan banyak lagi manusia dari berbagai bangsa dan golongan yang kebanyakan dari orang-orang Arab dusun dan kaum wanita.”

Ucapan di atas bukanlah omong kosong belaka karena memang didasarkan sebuah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dajjal akan turun di lembah air Murqonah' ini, maka orang yang datang kepadanya kebanyakan kaum wanita, sehingga seseorang akan pergi menemui sahabat karibnya, ibunya, anak perempuanya, saudara perempuannya, dan kepada bibinya untuk meneguhkan hatinya karena khawatir mereka akan pergi menemui Dajjal."
(Musnad Ahmad VII: 190 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, "Isnadnya shahih.”)

Kembali mencermati hadits dan ucapan diatas, kami melihat kesamaan antara artis korea dan Dajjal yang walaupun perbedaannya begitu mencolok. Kedua-duanya memiliki satu titik kemiripan: sama-sama mampu merebut hati para wanita.

Menutup catatan ini, ada sebuah pertanyaan besar yang harus menjadi cambuk hati bagi wanita-wanita muslimah.  

“Dengan bekal apa mereka menghadapi dahsyatnya fitnah Dajjal sementara di zaman ini mereka telah terbius dengan fitnah artis-artis korea?”


***

Abdullah Akiera Van As-Samawiey

Lantai 3 Masjid 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Mataram, Rabu 01 Dzulhijjah 1433 /17 Oktober 2012 M


Senarai Inspirasi:
  1. Kitab Al-Jawaab al-Kaafiy Liman Sa-ala ‘anid Dawa-i asy-Syaafi oleh Imam Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, diterbitkan oleh Markaz al-‘Urwah al-Watsq Lilbahts al-‘Ilm.
  2. kitab Mahdhu Al-Ishabah fiy Tahriiri ‘Aqiidati Ahli As-Sunnah wa Mukhalifiihim fiy Ash-shahaabati karya syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili  hafidzahullah, terbitan Dar Al-Imam Ahmad, Al-Qaahirah. 
  3. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Buku Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah oleh Ustadz Yazid bin abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, cetakan ke-7.
  5. Artikel kami yang berjudul "Pencuri Hati Bidadari Bumi"


End Notes:

[1] HR al-Bukhari no. 6632
[2] Muttafaq ‘alaihi
[3] Hadits riwayat al-Bukhari (3673), Muslim (2541), dan yang lainnya.
[4] Dikutip dari kitab Mahdhu Al-Ishabah fiy Tahriiri ‘Aqiidati Ahli As-Sunnah wa Mukhalifiihim fiy Ash-shahaabati karya Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili  hafidzahullah, terbitan Dar Al-Imam Ahmad, Al-Qaahirah, hal 13.
[5] Ibid,
[6] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Juz 7 hal. 1240.
[7] HR al-Bukhari no. 6169

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.