-->

15 November 2012

INILAH HADDADIYAH…!!! (bagian 3)


Oleh : Ustadz Abu Salmah al-Atsari
diantara karakteristik mereka :
2. Bodoh terhadap Aqidah Salafiyah dan Manhaj Salaf
Ini adalah karakter yang menonjol dari mereka, yaitu bodoh terhadap aqidah salafiyah dan manhaj salaf, walaupun mereka mengaku dan mengklaim berada di atasnya. Pengaku-ngakuan mereka hanyalah isapan jempol belaka dan angan-angan melayang yang dibawa pergi seekor burung di angkasa. Diantara kebodohan mereka ini adalah :
a. Tidak bisa membedakan antara mentazkiyah dan menukil
Menurut mereka, menukil dari ahli bid’ah, atau yang mereka tuduh bid’ah, maka sama artinya mentazkiyah (memuji) ahli bid’ah. Apabila kita perhatikan tulisan-tulisan mereka yang dimuat di sebuah website antik, yang modalnya hanyalah makian, celaan, fitnah dan dusta, maka akan didapatkan ucapan-ucapan kebodohan mereka. Mereka menuduh Ustadz Arifin Baderi telah mentazkiyah Abduh Zulfidar Akaha hanya karena menukil buku yang ditulisnya bersama Hartono A. Jaiz (”Bila Kyai Dipertuhankan”), mereka juga menuduh al-Akh Abu Hannan hanya karena menukil tulisan M. Ihsan dalam masalah kasus Lebanon dan menukil dari Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi hafizhahullahu yang dituduh mereka ”Tablighi”, dan lainnya…
Ini menunjukkan bagaimana bodohnya orang-orang ini, padahal apabila mereka menelaah kitab-kitab para ulama, niscaya mereka akan mendapatkan nukilan-nulilan dari ulama-ulama yang bukan ahlus sunnah. Perhatikanlah ucapan Ma’ali Syaikh Sholih Alu Syaikh berikut ini :
وهذا منهج عام لإقامة الحجة وإيضاح المحجة في أبواب الدين كله؛ وهو أنه لا يلزم من نقل الناقل عن كتاب أنه يزكيه مطلقا، وقد ينقل عنه ما وافق فيه الحق تأييدا للحق، وإن كان خالف الحق في غير ذلك فلا يعاب على من نقل من كتاب اشتمل على حق وباطل إذا نقل ما اشتمل عليه من الحق. وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير شائع بيِّن.
”Dan hal ini termasuk manhaj yang umum di dalam menegakkan hujjah dan menerangkan pusat sasaran di semua bab-bab permasalahan agama, yaitu bahwasanya tidaklah melazimkan seseorang yang menukil dari sebuah buku bahwa ini artinya ia mentazkiyahnya secara mutlak. Ia terkadang menukil darinya yang selaras dengan kebenaran dalam rangka menyokong kebenaran, walaupun (di dalam buku itu) ada yang menyelisihi kebenaran, namun tidaklah tercela bagi orang yang menukil dari buku yang mengandung kebenaran dan kebatilan apabila ia menukilkan bagian yang benar darinya. Dan juga, memperbanyak nukilan-nukilan dari manusia tentang perbedaan madzhab-madzhab mereka, hal ini membuahkan faidah bahwa kebenaran itu tidaklah samar, namun ia banyak tersebar luas dan terang.”[1]
Apakah mereka memahai qo’idah ’aamah (kaidah umum) ini?!! Padahal di dalam risalah di atas, penjelasan ini termasuk ke dalam qo’idah ’aamah yang seharusnya thullabul ’ilmi pemula memahaminya. Apabila kaidah umum seperti ini saja mereka tidak faham, lantas atas dasar apa mereka menulis bantahan-bantahan kejinya kepada para du’at dan thullabul ’ilmi ahlis sunnah?!! La haula wa laa quwwata illa billah.
b. Tidak faham bedanya mencari ilmu dengan menerima ilmu
Kaidah ini berhubungan dengan kaidah di atas, yaitu mereka benar-benar tidak faham bedanya antara mencari/menuntut ilmu dari ahli bid’ah dengan menerima kebenaran darinya. Menurut mereka, seakan-akan apa yang keluar hanya dari mereka saja itulah yang benar dan yang keluar dari selain mereka semuanya salah walaupun pada realitanya ucapan lawan mereka ini benar.
Mereka tidak segan-segan mencela dan mengumpat siapa saja dari kalangan salafiyin misalnya, yang menerima ucapan tokoh-tokoh hizbiyyin yang selaras dengan al-haq, karena menurut mereka ini sama saja dengan tazkiyah atau merekomendasi kaum hizbiyyin dan segala kesesatan mereka. Padahal hakikatnya tidak mutlak demikian, dan inilah letak kebodohan mereka.
Ma’ali Syaikh Shalih bin ’Abdil ’Aziz Alu Syaikh hafizhahullahu berkata :
فيقبل الحق ممن جاء به ولو كان كافرا، كما قبل الحق من الشيطان في قصة أبي هريرة مع الشيطان في صدقة الفطر المعروفة؛ حيث جاء يأخذ فمسكه أبو هريرة، ثم جاء يأخذ فمسكه، ثم جاء يأخذ فمسكه، ثم قال له: ألا أدلك على كلمة إذا قلتها كنت في أمان أو عصمتك ليلتك كلها اقرأ آية الكرسي كل ليلة فإنه لا يزال عليك من الله حافظ حتى تصبح. فأخبر النبي عليه الصلاة والسلام بذلك فقال عليه الصلاة والسلام «صدقك وهو كذوب» سلم بهذا التعليم وأخذ به مع أنه من الشيطان.
Kebenaran diterima dari mana saja datangnya walaupun dari seorang kafir, sebagaimana diterimanya kebenaran dari Syaithan di dalam kisah Abi Hurairoh bersama Syaithan di dalam kisah penjagaan gudang beras yang berisi beras fithri yang telah ma’ruf. Dimana Syaithan datang (hendak mencuri) namun Abu Hurairoh menangkapnya, ia datang lagi ditangkap lagi, kemudian ia datang lagi dan ditangkap lagi, kemudian Syaithan berkata kepadanya : “maukah engkau aku tunjukkan sebuah kalimat yang apabila engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi aman atau terjaga seluruh malammu, yaitu bacalah ayat kursi setiap malan karena sesungguhnya engkau akan senantiasa terjaga oleh penjagaan Alloh sampai datangnya waktu pagi.” Kemudian Abu Hurairoh mengabarkan hal ini kepada Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam, lalu Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam menukas : “Dia telah jujur padamu padahal dia adalah pendusta.” Beliau menerima pengajaran ini dan mengambilnya padahal pengajaran ini datang dari Syaithan.”[2]
Namun sayang, mereka yang mengaku-ngaku sebagai salafiy ahlus sunnah sejati ini tidak faham dan jahil akan kaidah seperti ini. Semoga hal ini bisa menjadi cambukan dan nasehat bagi mereka, agar mereka kembali kepada manhaj yang benar dan meninggalkan karakter ghuluw dan haddadiyahnya yang membinasakan. Allohul Muwafiq ila sawa’is sabiil.
c. Tidak memahami kaidah bahwa tidak setiap orang yang jatuh kepada kebid’ahan otomatis menjadi mubtadi’.
Ini adalah diantara kebodohan mereka yang kesekian kalinya, karena mereka bodoh terhadap kaidah dasar ahlus sunnah ini. Seringkali kita melihat, mendengar atau membaca tulisan-tulisan mereka yang penuh dengan makian, umpatan, cercaan dan hujatan, bahkan tidak segan-segan mereka memberikan label-label yang merupakan salah satu bentuk tabdi’ mu’ayan (vonis bid’ah secara spesifik) kepada orang-orang tertentu. Padahal tidak setiap orang yang jatuh kepada bid’ah maka oromatis menjadi ahli bid’ah, yang harus digempur dengan makian, cercaan, celaan dan umpatan keji lainnya.
Lihatlah bagaimana mereka menuduh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza`iri sebagai Tablighiy, menuduh Syaikh Ahmad as-Surkati dengan beraneka tuduhan, mulai dari Aqlaniy, Mubtadi’, penyeru kesesatan Pan Islamisme sampai menuduh aqidah beliau dengan tuduhan antek Belanda. Wal’iyadzubillah. Belum lagi kepada para du’at salafiyyin, maka gelar al-Hizbi, as-Sururi, al-kadza wa kadza merupakan mainan mereka sehari-hari. Karena mereka telah termakan oleh manhaj Haddadiyah yang menyatakan bahwa “setiap orang jatuh kepada kebid’ahan maka otomatis menjadi ahli bid’ah”.
ingatlah ucapan al-Imam al-Albani rahimahullahu di dalam kaset Haqiqotul Kufr wal Bida’ :
ليس كل من وقع في البدعة وقعت البدعة عليه وليس من وقع في الكفر وقع الكفرعليه
“Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka otomatis dengan serta merta dia menjadi mubtadi’ dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka dengan serta mertia menjadi menjadi kafir.”
Adakah mereka memahami kaidah dan prinsip dasar seperti ini?
Perhatikan pula ucapan Ma’ali Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullahu berikut ini :
من الذي يحكم بالبدعة : البدعة حكم شرعي, والحكم على من قامت به بأنه مبتدع هذا حكم شرعي غليظ, لأن الأحكام الشرعية تبع الأشخاص: الكافر, ويليه المبتدع, ويليه الفاسق. وكل واحدة من هذه إنما يكون الحكم بها لأهل العلم, لأنه لا تلازم بين الكفر والكافر, فليس كل من قام به كفر فهو كافر, ثنائية غير متلازمة, وليس كل من قامت به بدعة فهو مبتدع, وليس كل من فعل فسوقا فهو فاسق بنفس الامر
“Siapakah (yang layak) dihukumi dengan bid’ah? Bid’ah itu merupakan hukum syar’i, dan menghukumi orang yang mengamalkan suatu bid’ah merupakan hukum syar’i yang sangat berat. Karena hukum syar’i yang ditujukan kepada seseorang sebagai kafir, mubtadi’ dan fasiq, maka salah satu dari setiap hukum ini adalah haknya ahli ilmu (ulama). Karena tidaklah mesti kekufuran itu menyebabkan pelakunya kafir, dan tidaklah setiap orang yang melakukan kekafiran maka ia (dengan serta merta) menjadi kafir. Suatu tsana’iyah (pasangan) itu tidaklah saling mengharuskan. Tidaklah setiap orang yang melakukan kebid’ahan maka ia menjadi mubtadi’ dan tidaklah pula setiap orang yang melakukan kefasikan ia dengan serta merta menjadi fasiq.”[3]
Aduhai, orang-orang bodoh ini tidak faham kaidah mendasar seperti ini, lantas mengapa dengan begitu mudahnya mereka menvonis ini sesat, ini mubtadi’, ini sururi, ini… dan itu… Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
d. Gegabah di dalam tabdi’ (menvonis bid’ah) seseorang dan menempatkan diri sebagai ulama
Ini merupakan lanjutan dari kaidah sebelumnya. Dikarenakan mereka tidak faham kaidah bahwa tidak setiap orang yang jatuh kepada kebid’ahan tidak otomatis menjadikannya mubtadi’, maka mereka dengan mudahnya dan lancangnya menempatkan diri sebagai ulama bahkan seorang mufti yang berhak menvonis ini sesat dan itu bid’ah… mereka melompati kapasitas diri mereka yang dikatakan sebagai penuntut ilmu pemula saja belum bisa. Karena modal utama mereka bukanlah ilmu namun tahdzir sana sini dengan kejahilan dan kedustaan.
Perhatikan ucapan Syaikh Shalih Alu Syaikh nafa’allahu bihi ketika menjelaskan hak seseorang yang boleh melakukan vonis bid’ah (tabdi’). Beliau hafizhahullahu berkata :
فالحكم بالبدعة وبأنّ قائل هذا القول مبتدع و أنّ هذا القول بدعة ليس لآحد من عرف السنة, وإنما هو لأهل العلم, لأنه لا يحكم بذلك إلا بعد وجود الشرائط وانتفاء الموانع, وهذه المسألة راجعة إلى أهل الفتوى وأنّ اجتماع الشروط وانتفاء الموانع من صنعة المفتي.
“Menghukumi suatu bid’ah dimana orang yang berkata dengan perkataan ini (divonis sebagai) mubtadi’ atau perkataan itu sendiri sebagai suatu bid’ah bukanlah hak setiap orang yang mengetahui sunnah, namun sesungguhnya hal ini merupakan hak ahli ilmu (ulama). Dikarenakan (seseorang) tidak dihukumi dengan bid’ah melainkan setelah terwujudnya syarat-syarat dan dihilangkannya penghalang-penghalang (jatuhnya vonis bid’ah). Dan masalah ini dikembalikan kepada ahli Fatwa (mufti) yang mana mewujudkan syarat-syarat dan menghilangkan penghalang adalah termasuk tugas seorang mufti.”[4]
Namun karena berhubung mereka ini merasa sok alim, sok menjadi mufti dan sok ahli jarh wa ta’dil, maka mereka ambil peran dan tugas para ulama atau thullabatul ‘ilmi yang mutamakkin (mumpuni) dan mereka terapkan ke sana kemari secara serampangan dan asal-asalan. Dan akibatnya adalah, fitnah kesana kemari dan larinya manusia dari dakwah al-haq ini. Allohumaa.
e. Berprinsip : “Barangsiapa yang membela ahli bid’ah maka otomatis ia adalah mubtadi’”
Prinsip ini dilariskan oleh pembesar Haddadiyah zaman ini, Falih bin Nafi’ al-Harbi yang dulu mereka puja puji, yang mereka sebut dengan Mujahid, Ahli Jarh wa Ta’dil, manusia yang paling faham tentang kesesatan hizbiyah, dan pujian-pujian selangit lainnya. Bahkan, saya pernah berdiskusi dulu dengan salah satu pembebeknya –sebelum Syaikh Falih ditahdzir-, dan saya mengatakan padanya bahwa tidak setiap ucapan beliau ini harus diterima, karena banyak ulama lain yang berbeda pendapat dengannya di dalam menvonis seseorang. Namun, si pembebek ini dengan serta merta marah dan menuduh saya telah mencela kibarul ulama’.
Lalu saya bawakan padanya ucapan al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad dari sebuah mukalamah hatifiyah (percakapan via telepon) antara beliau dengan seorang da’i Eropa dari QSS (Qur’an Sunnah Society) atau Jum’iyah Ahlil Qur’an was Sunnah di Toronto Kanada, dimana ketika da’i ini bertanya pada Syaikh ‘Abdul Muhsin tentang Syaikh Falih al-Harbi, apakah ia termasuk kibarul ulama, maka Syaikh ‘Abdul Muhsin menjawab : “Abadan Abadan.” (sama sekali bukan! Sama sekali bukan!), saya juga membawakan ucapan Syaikh Muqbil bin Hadi yang telah berfirasat sebelum wafatnya akan perihal Syaikh Falih dengan mengatakan : “Falih ghoyru Falih” (Si Falih yang tidak beruntung). Namun, si ikhwan ini malah marah-marah dan memaki-maki saya dan menuduh saya sebagai hizbiy karena mencela ulama.
Namun, setelah buku al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu keluar, yang berjudul Al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah keluar dan mentahdzir Falih dengan menyebutnya : “rangkingnya dia ketika masih kuliah dulu adalah 104 dari 119 siswa.”, beliau juga mengatakan : “wa huwa ghoyru ma’ruf bil isytighol bil ‘ilmi, wa laa a’rifu lahu duruusan ‘ilmiyyan musajjalatan, wa laa mu’allafan fil ‘ilmi shogiiron walaa kabiiron, wa jullu bidho’atihi at-Tajriih wat Tabdii’ wat Tahdziir min Katsiiriina min Ahlis Sunnah” (Orang ini tidak dikenal menyibukkan diri dengan ilmu, aku tidak mengetahui dia memiliki pelajaran ilmiah yang direkam, dia juga tidak memiliki tulisan-tulisan di dalam masalah ilmu baik kecil maupun besar, dan modal utamanya adalah mencela, menvonis bid’ah dan mentahdzir mayoritas ahlis sunnah…) [lih. Al-Hatstsu hal. 64], setelah tahdzir dari al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin ini maka mayoritas ulama ahlis sunnah turut mentahdzirnya juga, namun ikhwan ini tidak pernah menyatakan kesalahannya dulu atas pembelaan fanatiknya kepada Falih al-Harbi, namun ia mencuci tangan dengan turut mengkritiknya walaupun ia masih mengadopsi manhajnya. Allahul Musta’an.
Diskusi ini sebenarnya berawal ketika saya membawakan ucapan-ucapan Masyaikh Yordania raghmun unufihim, namun ia dengan serta merta membawakan ucapan Syaikh Falih yang mentahdzir masyaikh Yordania tersebut (masyaikh dari Markaz al-Imam al-Albani) dengan mengatakan : “manhaj mereka lemah setelah wafatnya al-Albani, dan mereka sekarang bergabung dengan hizbiyyun di dalam halaqoh dan dauroh-dauroh hizbiyyun, mereka sekarang berada di atas manhaj ha`ula’i hizbiyyin…” demikian nukilan yang diberikan oleh di ikhwan ini dari website berbahasa Inggris “salafitalk” yang menukilnya dari “sahab.net” (dulu sebelum mereka juga akhirnya mendepaknya keluar) dari percakapan telepon antara Falih al-Harbi dengan seorang dari al-Jaza`iri.
Falih al-Harbi berargumentasi : man dafa’a saqith fahuwa saqith (barangsiapa yang membela orang yang keliru maka ia juga keliru), lalu ia menyatakan pula : man dafa’a mubtadi’ fahuwa mubtadi’, man dafa’a hizbiy fahuwa hizbiy… dan inilah kaidah yang saya maksudkan, yaitu barangsiapa yang membela seorang yang tersalah maka ia juga tersalah. Perhatikanlah sekarang mereka yang terpengaruh oleh manhaj ini, mereka mengatakan bahwa membela Syaikh Ahmad Surkati di dalam perkara yang haq dari beliau, maka sama saja dengan membela kesesatan-kesesatan dan penyimpangan-penyimpangan beliau, oleh karena itu pembelanya layak disebut sebagai Surkatiyyun, Irsyadiyyun atau tuduhan-tuduhan semisal.
Ini jelas-jelas merupakan salah satu kebodohan mereka dan atsar (bekas) dari manhaj Haddadiyah yang ditinggalkan Ja’far Umar Thalib dan Falih al-Harbi beserta cs.-nya semisal Fauzi al-Bahraini kepada mereka, telah merasuk dan menancap sangat kuat hingga ke sanubari dan menjadikannya sebagai ciri khas manhaj mereka yang utama.
f. Menguji manusia dengan perseorangan
Ini merupakan bentuk bid’ah yang dimunculkan kembali hari ini yang telah diwanti-wanti oleh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullahu di dalam buku beliau, al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah, terutama pada bab Bid’atu imtihaani an-Naas bil Askhosh (Bid’ah menguji manusia dengan perseorangan).
Maksudnya adalah, ada beberapa oknum segolongan kecil atau fi`atun qoliilah –demikianlah sebutan yang diberikan oleh al-‘Allamah al-‘Abbad kepada mereka- yang menyibukkan diri dengan tattabu’ al-Aktho’ (mencari-cari kesalahan) dan tajassus (memata-matai) para du’at da ulama. Mereka setiap kali bertemu dengan orang, bertanya : “Bagaimana pandangan antum dengan Syaikh atau ustadz Fulan?” Apabila orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sama, maka ia dipuji dan dijadikan sebagai sahabatnya. Namun, apabila orang tersebut menjawab yang berlainan dengannya, atau tawaqquf (berdiam diri) karena ketidaktahuannya akan hakikat sebenarnya, maka mereka akan memaksanya untuk berpendapat dengan pendapatnya, apabila tidak maka ia akan turut ditahdzir, dihajr (dikucilkan), dicela, dimaki dan dijelek-jelekkan.
Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullahu wa atholallohu umurahu berkata :
ومن البدع المنكرة ما حدث في هذا الزمان من امتحان بعض من أهل السنَّة بعضاً بأشخاص، سواء كان الباعث على الامتحان الجفاء في شخص يُمتحن به، أو كان الباعث عليه الإطراء لشخص آخر، وإذا كانت نتيجة الامتحان الموافقة لِمَا أراده الممتحِن ظفر بالترحيب والمدح والثناء، وإلاَّ كان حظّه التجريح والتبديع والهجر والتحذير
“Dan termasuk diantara bid’ah munkarah yang terjadi di zaman ini adalah menguji sebagian ahlis sunnah dengan ahlus sunnah lainnya dengan perseorangan tertentu. Sama saja, baik orang yang berkecimpung dalam pembahasan pengujian manusia ini adalah orang yang merendahkan orang yang diuji tersebut atau yang menyanjung-nyanjungnya individu lainnya. Apabila hasil pengujian ini selaras dengan yang dikehendaki oleh penguji maka akan membuahkan pujian dan sanjungan padanya, namun apabila tidak maka ia akan dijarh, ditabdi’, dihajr dan ditahdzir…”[5]
Pembahasan lebih lengkap silakan dirujuk langsung kepada kitab tersebut, insya Alloh banyak faidah yang bisa dipetik darinya, dan inilah nasihat emas yang mengalir dari ulama senior ahli hadits zaman ini yang seharusnya kita jadikan sebagai cambukan untuk muhasabah dan mengevaluasi diri kita atas kesesuaian kita dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih.
g. Tidak berihtimam dengan ilmu namun lebih menyibukkan diri dengan tabdi’, tafsiq dan tadhlil.
Apabila para pembaca budiman membaca artikel dan uraian para pemuda yang terpengaruh manhaj Haddadiyah ini, mereka seringkali menyebut diri mereka sebagai “orang awam”, “orang yang bodoh”, “si miskin ini”, “bocah ingusan ini” dan ucapan-ucapan yang merendahkan diri lainnya. Alhamdulillah, dari sini sebenarnya mereka faham bahwa mereka ini adalah orang-orang bodoh yang miskin ilmu. Namun anehnya, ketika mereka menyadari hal ini, mereka bukannya menyibukkan diri dengan ilmu dan berihtimam dengannya namun malah menyibukkan diri dengan vonis-vonis yang bukanlah merupakan hak orang yang bodoh, miskin, bocah ingusan dan yang semisalnya seperti mereka.
Apabila ada diantara para pembaca budiman yang pernah membuka website gelap yang tak jelas pengelolanya, yang tidak jelas dimana alamat mereka, berapa nomor telepon yang bisa dihubungi atau siapa penanggung jawabnya yang dapat dikontak, maka akan mendapatkan tulisan-tulisan yang kesemuanya 100% adalah bantahan, tahdzir, tanfir, jarh, makian, umpatan, cacian dan semisalnya yang dibalut dengan kedustaan, fitnah, iftiro’, ikhtiro’ dan segala bentuk investigasi dan manipulasi lainnya, dan tidak akan menemukan artikel-artikel ilmiah lainnya yang ummat bisa lebih beristifadah dengannya, semisal masalah fiqh, aqidah, apalagi masalah adab dan akhlaq. Pun, di website-website lainnya yang ilmiah, tidak pernah kita dengar kontributor mereka semisal Abdul Ghafur misalnya, atau Abdul Hadi, atau Ibrahim, atau siapapun namanya, menuliskan artikel ilmiah seputar masalah fiqh misalnya, atau masalah aqidah misalnya, atau bantahan ilmiah terhadap para hizbiyun yang mencela dakwah salafiyyah, atau bahasan ilmiah lainnya. Seakan-akan menunjukkan bahwa jullu bithonatihim (modal utama mereka) adalah tajrih, tahdzir, tahjir dan yang semisalnya.
Hal ini semakin meyakinkan bahwa mereka memang jahil dan bukan seorang thullabul ‘ilmi, namun lebih tepatnya disebut thullabul fitan. Karena tidaklah keluar dari orang-orang semisal mereka melainkan hanya fitnah, kedustaan, sumpah serapah dan segala bentuk sampah-sampah lisan dan pemikiran mereka, wal’iyadzubillah. Aduhai, alangkah lebih baik apabila mereka juga menyibukkan diri dengan ilmu syar’i, bahasan ilmiah seputar fikih, aqidah ataupun manhaj, atau rudud-rudud ilmiyah kepada hizbiyun atau harokiyun yang mencela dan menuduh dakwah salafiyah dengan tuduhan-tuduhan dusta. Bukannya malah, membantu kaum hizbiyun untuk membenarkan tuduhan-tuduhan mereka, menyokong hizbiyun dengan menunjukkan bahwa dakwah salafiyyah ini adalah dakwahnya munaffirin (orang-orang yang melarikan manusia dari al-Haq), atau malah membenarkan tuduhan-tuduhan mereka sebagaimana tuduhan Halawi Makmun yang menuduh bahwa perbedaan salafiyin bukanlah dikarenakan perbedaan pendapat, namun lebih karena perbedaan PENDAPATAN. Dan tuduhan semisal ini bukannya malah dicounter oleh mereka, namun malah dibenarkan dan dijadikan sarana untuk menyerang sesama ahlis sunnah. Allohu Akbar!!
Apabila kita lihat lagi di forum-forum internet semisal di MyQuran, ketika salafiyyun dibantah oleh kaum hizbiyyun, mereka bukan malah mengcounternya, namun malah menbuka celah bagi hizbiyyun untuk lebih getol menyerang dakwah salafiyyah ini. Mereka nukil tulisan-tulisan sampah di sebuah website gelap tersebut lalu dipastekannya ke forum-forum di internet yang esensinya tidak ada bantahan ilmiah sama sekali di dalamnya, namun hanyalah investigasi-investigasi ala agen rahasia yang orang kafir pun mampu melakukannya. Mereka ini pada hakikatnya tidak faham dengan thoriqotus salafiyyah dan manhaj salaf, dan mereka menisbatkan apa-apa yang bukan dari manhaj salaf sebagai bagian dari manhaj salaf karena kebodohan semata.
Al-‘Allamah Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata :
فإذا أردت أن تتبع السلف لا بد أن تعرف طريقتهم ، فلا يمكن أن تتبع السلف إلا إذا عرفت طريقتهم وأتقنت منهجهم من أجل أن تسير عليه ، وأما مع الجهل فلا يمكن أن تسير على طريقتهم وأنت تجهلها ولا تعرفها ، أو تنسب إليهم ما لم يقولوه ولم يعتقدوه ، تقول : هذا مذهب السلف ، كما يحصل من بعض الجهال – الآن – الذين يسمون أنفسهم (سلفيين) ثم يخالفون السلف ،ويشتدون ويكفرون ، ويفسقون ويبدعون . السلف ما كانوا يبدعون ويكفرون ويفسقون إلا بدليل وبرهان ، ما هو بالهوى أو الجهل
“Apabila kamu telah tahu bahwa meneladani salaf itu mengharuskanmu untuk mengetahui jalan mereka, maka tidaklah mungkin kamu bisa meneladani salaf kecuali apabila kamu mengetahui jalan mereka dan memahami manhaj mereka supaya kamu dapat meniti di atas jalan itu. Adapun dengan kebodohan maka tidak mungkin kamu dapat meniti di atas jalan mereka sedangkan kamu bodoh terhadapnya dan tidak mengetahuinya, atau kamu menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ucapkan dan yakini, lantas kamu berkata : “ini madzhab salaf”, sebagaimana yang tengah terjadi saat ini pada sebagian orang-orang bodoh, yang menamakan diri mereka dengan salafiyin, namun mereka menyelisihi salaf, mereka bersikap arogan dan mengkafirkan, menfasikkan dan membid’ahkan (siapa saja yang menyelisihi mereka). Para salaf, mereka tidak pernah membid’ahkan, mengkafirkan dan menfasikkan melainkan dengan dalil dan burhan (bukti yang terang), bukannya dengan hawa nafsu dan kebodohan.”[6]
h. Lebih senang menyerang sesama ahlus sunnah dan menyibukkan diri dengan mencela mereka
Ini merupakan karakter mereka yang sangat tampak sekali. Mereka lebih senang menyibukkan diri dengan sesama ahlus sunnah daripada membantah ahli bid’ah yang jelas-jelas akan kesesatan dan penyimpangannya. Mereka lebih terobsesi untuk menjelek-jelekkan sesama ahlis sunnah daripada selainnya. Perilaku inilah yang menyebabkan dakwah salafiyah semakin dijauhi dan dakwah hizbiyyah semakin digandrungi, kaum hizbiyun dan ahli bid’ah bertepuk tangan berbahagia melihat percekcokan diantara sesama ahlus sunnah ini, karena dengan sibuknya antara sesama ahlus sunnah, maka mereka kaum hizbiyyun akan selamat dari kritikan dan tahdzir ahlus sunnah kepada mereka.
Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad sendiri telah mewanti-wanti masalah ini, semenjak beliau menulis Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah hingga risalah beliau al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah. Mereka para pemuda yang terpengaruh manhaj rusak haddadiyah ini, tidak sedikitpun mengambil ifadah dari nasehat-nasehat dari para ulama semisal Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad ini. Bahkan mereka mencela buku beliau ini dan melakukan penolakan besar-besaran. Padahal, mereka sendiri telah mengetahui latar belakang penulisan buku Rifqon Ahlas Sunnah ini.
Berikut ini adalah ulasan Syaikh di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah bab Fitnatut Tajrih wal Hajr min Ba’dhi Ahlis Sunnah fi Hadzal Ashr (Fitnah sikap saling mencela dan mengisolir diantara sebagian ahlus sunnah di zaman ini)
حصل في هذا الزمان انشغال بعض أهل السنة ببعض تجريحاً وتحذيراً، وترتب على ذلك التفرق والاختلاف والتهاجر، وكان اللائق بل المتعين التواد والتراحم بينهم، ووقوفهم صفاً واحداً في وجه أهل البدع والأهواء المخالفين لأهل السنة والجماعة
“Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah…”
Saya bertanya kepada mereka yang menolak risalah Rifqon Ahlas Sunnah ini, apakah ucapan Syaikh di atas tidak benar dan tidak ada waqi’ (realita)-nya? Apabila mereka mengatakan iya, maka fasubhanalloh, ini adalah celaan kepada Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad karena seakan-akan beliau ini bodoh dengan waqi’ ummat dan beliau menulisnya di atas kebodohan. Apabila mereka mengatakan tidak, dan fenomena yang disebutkan syaikh adalah benar, maka kepada siapakah syaikh memaksudkan ucapannya?! Apakah mereka tidak sadar akan karakter mereka yang mudah mencela, mentahdzir, memaki dan mengumpat orang lain sesama ahlis sunnah inilah yang dimaksud oleh Syaikh al-‘Abbad?!! Sehingga mereka tidak mau introspeksi dan menerima nasehat Syaikh hafizhahullahu?!! Jika benar demikian, maka begitu sombongnya mereka.
Bukankah mereka tahu bahwa Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menuliskan nasehatnya tersebut di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah adalah untuk kalangan ahlus sunnah salafiyyin saja yang saat ini tengah terjadi percekcokan dan perselisihan di antara mereka?!! Sebagaimana klarifikasi beliau berikut :
و الكتاب الذي كتبتة أخيراَ….لا علاقة للذين ذكرتهم في مدارك النظر بهذا الذي هو :رفقاَ أهل السنة بأهل السنة لا يعني الإخوان المسلمين , ولا يعني المفتونين بسيد قطب و غيرهم من الحركيين, و لا يعني أيظاً المفتونين بفقه الواقع و النيل من الحكام و كذلك التزهيد في العلماء لا يعني هؤلاء لا من قريب و لا من بعيد و إنما يعني أهل السنة فقط حيث يحصل بينهم الإختلاف فينشغل بعضهم ببعض تجريحاَ و هجراَ و ذماً
“Buku yang aku tulis terakhir ini yaitu Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah ada korelasinya dengan yang telah aku sebutkan di dalam Madarikun Nazhar. Risalahku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah dimaksudkan untuk Ikhwanul Muslimin tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb dan selainnya dari para harokiyyin. Tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan fiqh waqi’, para pencela penguasa dan orang-orang yang merendahkan para ulama, tidak dimaksudkan untuk mereka baik yang dekat maupun jauh. Sesungguhnya, risalahku ini aku peruntukkan untuk Ahlus Sunnah saja!!! Mereka yang berada di atas jalan Ahlus Sunnah yang tengah terjadi di tengah mereka ini sekarang perselisihan dan sibuknya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr (mengisolir) dan mencela.”[7]
Siapakah ahlus sunnah yang saat ini tengah terjadi perselisihan dan tersibukkannya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr dan caci maki?!!
Ataukah mereka telah menvonis bahwa kami ini adalah hizbiyyun harokiyyun yang tidak layak risalah Rifqon beliau ditujukan kepada kami?! Jika demikian, aduhai benar sekali bahwa mereka ini telah dimakan oleh manhaj haddadiyah yang mudah mengeluarkan orang dari lingkaran ahlis sunnah tanpa ilmu dan bashiroh. Apakah mereka pernah melihat kami terfitnah oleh pemikiran Sayyid Quthb ataukah justeru kami mentahdzir darinya?!! Apakah pernah mereka melihat kami mencela penguasa kaum muslimin ataukah justeru kami yang menjelaskan bahwa mencela penguasa adalah diantara manhaj khowarij?! Bukankah dulu mereka yang terjatuh kepada pencelaan kepada penguasa, khuruj dari ketaatan dan melakukan muzhoharoh (demonstrasi) dan pengumpulan massa ala hizbiyyin?! Lantas mengapa begitu mudahnya mereka melupakannya, mencuci tangan dan menuduh kedustaan kepada orang lain yang mereka terbebas darinya. Allohumma sallimna!!!
i. Menerapkan Hajr secara serampangan
Ini adalah bentuk kebodohan mereka yang kesekian kalinya, mereka tidak faham apa itu hajr, bagaimana cara dan syarat-syaratnya, oleh karena itulah sering sekali para masyaikh ahlus sunnah menjelaskan masalah ini, diantaranya adalah Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, lalu juga Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dan selain mereka hafizhahumullah di dalam dauroh-dauroh mereka.
Kepada setiap orang yang mereka nilai sesat dan menyimpang, maka dengan serta merta mereka menghajrnya, tidak mau salam dengannya, tidak mau duduk bermajlis dengannya walaupun dalam rangka mendakwahinya, tidak mau bermuka masam kepada kaum muslimin dan sikap-sikap buruk lainnya yang menyebabkan manusia semakin lari dari dakwah al-Haq ini, hanya karena disebabkan orang-orang juhala’ semisal mereka ini.
Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata di dalam Rifqon Ahlus Sunnah bi Ahlis Sunnah (hal. 52-53) :
والهجر المفيد بين أهل السنة ما كان نافعاً للمهجور، كهجر الوالد ولده، والشيخ تلميذه، وكذا صدور الهجر ممن يكون له منزلة رفيعة ومكانة عالية، فإن هجر مثل هؤلاء يكون مفيداً للمهجور، وأما إذا صدر الهجر من بعض الطلبة لغيرهم، لا سيما إذا كان في أمور لا يسوغ الهجر بسببها، فذلك لا يفيد المهجور شيئاً، بل يترتب عليه وجود الوحشة والتدابر والتقاطع
Hajr yang bermanfa’at di kalangan Ahlus Sunnah adalah apa yang dapat memberikan manfaat bagi yang dihajr (dikucilkan), seperti orang tua mengucilkan anaknya, dan seorang Syeikh terhadap muridnya, dan begitu juga pengucilan yang datang dari seorang yang mempuyai kehormatan dan kedudukan yang tinggi, karena sesungguhnya pengucilan mereka sangat berfaedah bagi orang yang dikucilkan. Adapun apabila hal itu dilakukan oleh sebagian penuntut ilmu terhadap sebagian lainnya, apalagi bila disebabkan oleh persoalan yang tidak sepantasnya ada hal pengucilan dalam persoalan tersebut, maka yang demikian ini tidak akan membawa faedah bagi yang dikucilkan sedikitpun, bahkan akan berakibat terjadinya pertikaian, sikap saling membelakangi dan pemutusan hubungan.”
j. Memikulkan kesalahan seseorang kepada orang lain
Ini adalah kesesatan pemikiran mereka yang paling tampak nyata, mereka akan memikulkan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. Pemikiran ini seperti aqidah nashrani yang meyakini adanya dosa ’warisan’ dan dan shufiyah yang meyakini bahwa amal perbuatan seseorang bisa ditanggung oleh orang lain.
Sebagaimana apa yang mereka lakukan kepada para du’at ahlus sunnah berupa celaan dan makian, mereka mencela seorang Ustadz hanya karena ada ustadz kenalannya yang melakukan suatu kesalahan. Alkisah ada seorang ustadz yang melakukan kesalahan yang menurut mereka sangat fatal –padahal belum tentu demikian-, maka mereka dengan serta merta bergembira ria atas kesalahan ustadz ini, mereka luangkan waktu untuk mentranskrip ucapan ustadz ini yang dipandang salah, namun tidak berakhir sampai di sini, mereka generalisir kesalahan ustadz ini kepada ustadz-ustadz lainnya yang tidak berbuat, dan mereka timpakan kesalahan yang sama kepada ustadz-ustadz lainnya yang kebetulan hanyalah mengenal ustadz yang tersalah ini. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya, sehingga dengan ”aqidah” sesat seperti inilah salah seorang dari mereka berani menyematkan label ”al-Kadzdzab” kepada salah seorang ustadz yang pernah memberikan ceramah di hadapan masyaikh dan thullabul ’ilmi di Markaz al-Imam al-Albani Yordania.
Alloh Ta’ala telah mengabarkan di dalam firman-Nya yang mulia :
أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةُ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنَّ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى
Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tidak akan mendapatkan selain apa yang ia usahakan.” (QS an-Najm : 38)
Alloh Ta’ala juga berfirman di tempat yang lain :
وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةُ وِزْرَ أُخْرَى
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS al-Israa` : 15; lihat pula QS az-Zumar : 7, Fathir : 35 dan Al-An’am : 164)
Al-’Allamah Nashir as-Sa’di rahimahullahu ketika menafsirkan QS an-Najmi di atas dengan :
أي: كلّ عامل له عمله الحسن والسيئ فليس له من عمل عيره وسعيهم شيء ولا يحتمل أحد عم أحد ذنبا
”Setiap orang yang melakukan maka baginya sendiri amal baik atau buruknya, dan dia tidak memikul apa yang dilakukan oleh selainnya dan sedikitpun dari hasil usaha mereka, dan seseorang tidak memikul dosa orang selainnya.”[8]
Namun aduhai, sungguh amat disayangkan sekali. Seorang yang mengaku-ngaku sebagai ahlus sunnah, bisa terjatuh kepada kesalahan semisal ini. Apakah hanya karena kebencian yang telah mendarah daging sehingga mereka menghalalkan segala cara hanya untuk memenuhi ambisi dan obsesi menjatuhkan kehormatan seorang muslim?!!
k. Mencela para ulama ahlus sunnah yang jatuh kepada kesalahan atau yang tidak sefaham dengan pemahaman mereka
Apabila pengekor Falih al-Harbi dulu gencar mencela para ulama dan menuduh mereka bermacam-macam, seperti menuduh Syaikh ’Abdurrazaq al-’Abbad, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili dan selain mereka dengan tuduhan tamyi’, menuduh masyaikh Yordania sebagai hizbiyyun dan pembela hizbiyyun, Syaikh Bakr Abu Zaed sebagai takfiri quthbi, Syaikh Jibrin sebagai ikhwani dan semisalnya, mereka pun sekarang juga masih tetap meniru metode Falih yang merupakan dampak dari pemahaman haddadiyah bahwa setiap orang yang jatuh pada kebid’ahan maka otomatis ia menjadi bid’ah.
Masih segar di ingatan kita ucapan salah seorang jahil dari kalangan mereka yang mencela Syaikh Abu Bakr al-Jazairi sebagai tablighi, merajuk-rajuk kepada masyaikh Yordania dengan perkataan : ”wahai syaikh, anda salah hadir di pertemuan mereka…” yang intinya mengatakan bahwa masyaikh salah dan saya yang benar!!! Menuduh syaikh Ahmad Surkati sebagai Mu’tazili Aqlani, bahkan dikatakan sebagai mubtadi’, penyeru kesesatan, agen kuffar Belanda dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.
Mereka tidak memahami bedanya ucapan : ”pada diri fulan ada pemahaman Asy’ariyah”, ”pada diri Alan ada pemahaman aqlaniyah”, ”Syaikh Fulan terjatuh pada kesalahan ini dan itu” atau ucapan-ucapan semisal yang tidak mengharuskan kesalahan-kesalahan mereka itu divonis bid’ah dan sesat. Mereka tidak cukup dengan metode seperti ini, karena hasrat dan ambisi mereka yang terbakar ghirah jahiliyah, hawa nafsu dan kedengkian yang membuncah, mengharuskan mereka untuk mencela dan menjatuhkan individu-individu dari para ulama tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam :
ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه
Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319).
Imam Ibnu Asakir rahimahullahu berkata di dalam Tabyin Kadzibil Muftari :
واعلم يا أخي! وفقنا الله وأياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أنّ لحوم العلماء وحمة الله عليهم مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة.
“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah menunjuki kami dan kalian kepada keridhaan-Nya dan semoga Dia menjadikan kita orang-orang yang takut kepada-Nya dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, bahwasanya daging para ulama –rahmatullahu ‘alaihim- adalah beracun dan merupakan kebiasaan Allah (sunnatullah) merobek tabir kekurangan mereka pula.”
Imam adz-Dzahabi di dalam Siyaru A’laamin Nubala’ (XIV/33) berkata :
ولو أن كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد مسائل خطأ مغفورا له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه منا سلم معنا لا ابن نصر ولا ابن منده ولا من هو أكبر منهما والله هو هادي الخلق إلى الحق وهو أرحم الراحمين فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة
“Kalau seandainya setiap kali seorang imam bersalah di dalam ijtihadnya pada suatu masalah dengan kesalahan yang terampuni, kemudian kita menvonisnya bid’ah dan menghajrnya, maka tak ada seorangpun yang selamat dari kita, tidak Ibnu Nashr (al-Marwazi), tidak pula Ibnu Mandah, ataupun yang lebih senior dari mereka berdua. Dan Allohlah Dia yang memberi petunjuk hamba-Nya kepada kebenaran dan Dia adalah yang paling penyayang. Kita memohon perlindungan dari hawa nafsu.”
Oleh karena itu, seharusnya mereka menjaga lisan dan diri mereka dari berkata buruk kepada ulama, apalagi yang telah wafat mendahului mereka, yang mana amal para ulama ini –insya Alloh- jauh melebihi mereka, bahkan mungkin menjangkau mata kakinya saja mereka tidak sampai. Apabila seseorang melihat ada kesalahan pada mereka, maka seharusnya ia menjaga dirinya dari berburuk sangka kepadanya, menjaga lisannya dari mencela, mengumpat, menghujat apalagi sampai melaknat dan menvonisnya sebagai ahli bid’ah dan kesesatan tanpa disertai burhan dan bashirah, karena apabila mereka ini mau bermuhasabah (introspeksi) niscaya kesalahan mereka akan lebih banyak dan besar daripada mereka (para ulama ini).
l. Lebih memprioritaskan dan menyibukkan diri dengan tahdzir daripada masalah pembenahan aqidah ummat
Al-Imam al-Albani rahimahullahu memiliki sebuah risalah yang sangat indah, yang merupakan transkrip rekaman ceramah beliau yang berjudul Tauhid Awwalan ya Du’atal Islaam (Tauhid dulu wahai para da’i islam!), demikian pula dengan Syaikh al-Qor’awi yang memiliki risalah Tauhid awwalan lau kaanuu ya’lamuun (Tauhid lebih dulu apabila mereka mengetahuinya), dan masih banyak lagi para ulama yang menjelaskan akan keutamaan dan prioritas tauhid dibandingkan lainnya.
Saya yakin, mereka semua faham bahwa dakwah yang diserukan awal mula dan pertama kali oleh para Nabi dan Rasul adalah seruan tauhid dan aqidah. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika mengutus Mu’adz, beliau memerintahkan agar Mu’adz menyeru kepada tauhid terlebih dahulu, baru menyerukan hukum-hukum Islam lainnya. Tidak ada yang mengingkari kewajiban pertama dan utama ummat Islam adalah memahami masalah aqidah dan tauhid ini.
Sekarang, apakah kaum muslimin di Indonesia ini, mayoritas mereka bertauhid dan beraqidah yang shahihah ataukah tidak?! Pasti kita semua mengetahui bahwa mayoritas ummat di Indonesia -dan negara lainnya- tidak faham aqidah yang benar dan makna tauhid yang shahih. Fenomena kesyirikan semisal tabarruk di kuburan, meminta dan berdo’a kepada mayyit, beritsighotsah kepada orang-orang yang telah meninggal, bertawassul dengan hak-hak wali dan orang mati, dan segala bentuk kesyirikan lainnya yang dipenuhi oleh takhayul, khurofat dan bid’ah.
Namun sungguh aneh, mengetahui fenomena semisal ini, mereka –para oknum juhala’ ini- lebih mementingkan dan mendahulukan tahdzir, tahdzir dan tahdzir. Bukannya tahdzir kepada kesyirikan, kekufuran dan kebid’ahan yang tengah melanda ummat, namun mereka mentahdzir para du’at ahlus sunnah yang mengerahkan tenaga dan waktunya untuk berdakwah dan menyerukan tauhid. Mereka larikan ummat ini dari kebenaran yang disampaikan sehingga seakan-akan kebenaran itu hanyalah milik sendiri yang tidak boleh orang lainnya mendapatkannya. Ma’adzallohu!!!
Apakah ini pengejawantahan dakwah salafiyah yang hakiki wahai ghulat?! Apakah gembor-gembor dan syiar anda yang berisi makian, cacian, umpatan, fitnah, celaan, kedustaan, manipulasi, kebodohan dan segala bentuk kejelekan lainnya sebagai salah satu bentuk dakwah salafiyyah?! Pembelaan atasnya dengan mengkambinghitamkan ilmu jarh wa ta’dil?!! Allohumma, alangkah rusaknya kalian ini…!!!
m. Menyibukkan diri dengan metode investigasi ala kuffar untuk mencari-cari kesalahan dan menyandarkannya sebagai bagian dari manhaj salaf
Mereka sibukkan diri dengan metode investigasi ala agen rahasia atau CIA atau semisalnya, mereka browsing ke internet mencari informasi yang bisa mereka jadikan sarana untuk menghantam saudara mereka, mereka ikuti berita-berita di media-media massa baik majalah dan selainnya, mereka ikuti kaset-kaset ceramah para du’at bukannya untuk beristifadah darinya namun untuk mencari-cari kesalahan. Informasi-informasi sepenggal-sepenggal yang terkadang ‘gak nyambung’ mereka satukan bagaikan anak kecil yang bermain ‘jigshaw puzzle’, menggabungkan potongan-potongan gambar teka-teki menjadi satu bagian utuh. Namun bedanya, para ‘pengangguran’ ini menyatukan potongan-potongan yang tidak utuh dengan imajinasi dan fantasi mereka sendiri.
Dari potongan-potongan informasi yang mereka dapatkan itu, mereka susun sebuah gambaran kacau yang disertai dengan imajiner dan manipulatif, lalu mereka gabung-gabungkan antara satu dengan lainnya, lalu mereka mengambil konklusi darinya. Dengan metode ini, mereka menghantam dan menghajar pada du’at yang kebanyakan tidak mengetahui apa yang mereka susun itu, lalu mereka saling silangkan, korelasikan dan generalisir kesalahan-kesalahan yang mereka dapatkan kepada orang yang tidak tahu apa-apa.
Mereka menyatakan, lihatlah website alirsyad.or.id yang memuat tulisan tentang Safar Hawali atau foto-foto atau… atau… lalu dengan enaknya dan mudahnya mereka timpakan pula kepada Ma’had Ali Al-Irsyad yang tidak tahu menahu tentang masalah ini, dengan alasan kesamaan nama. Aduhai, alangkah bodohnya pola pikir mereka, alangkah rusaknya metode berfikir mereka dan alangkah jauhnya tuduhan mereka dengan hakikat sebenarnya. Apabila mereka hendak mencari kejelasan, maka mereka haruslah mengambil yang muhkam dari pendapat orang atau ma’had yang mereka tuduh, bukannya menggambil yang samar dan tidak jelas.
Sebagai contoh, misalnya ada ustadz Fulan, dia menjelaskan sikapnya yang jelas kepada hizbiyyah, ia mentahdzir darinya, bahkan ia terangkan dengan sejelas-jelasnya, maka ucapan ustadz ini adalah ucapan yang muhkam, yang tafshil dan yang sharih yang harusnya dipegang. Bukannya malah mencari-cari celah yang samar, yang mana mereka bertakalluf untuk mencari-cari kesalahannya dengan bukti-bukti dan argumentasi yang samar, mujmal dan tidak terang. Seakan-akan mereka ini tidak senang apabila ada orang selain mereka yang melakukan kebenaran, dan mereka lebih menghendaki orang atau ustadz tersebut salah, agar mereka bisa melemparkan tuduhan-tuduhan keji dan fitnah-fitnahnya. Dan cara yang mereka gunakan adalah investigasi-investigasi informasi ala CIA atau semisalnya, yang mana orang kuffar atau ahli bid’ah pun bisa melakukan hal yang sama dengan mereka. Tidakkah mereka mengetahui artikel yang berjudul : “Indonesia Backgrounder : Why Salafism dan Terrorism mostly don’t mix” oleh ICG (International Crisis Group) yang metode pengumpulan beritanya dari internet dan mereka banyak sekali melakukan kesalahan di dalamnya. Kemudian metode para hizbiyyun pembenci dakwah salafiyyah yang menyusun bantahan-bantahan dengan penukilan-penukilan dan penghimpunan informasi dari internet yang sepatahg-sepatah dan sepotong-sepotong. Bahkan, apabila mereka melihat tulisan yang menyerang Syaikh Rabi’ bin Hadi, yang berjudul “Syaikh Rabi’ bin Hadi fil Mizan” maka metode mereka pada hakikatnya sama dengan mereka-mereka ini. Yaitu asmot (asal comot) dari sana sini kemudian ditambah dengan gosip (digosok semakin sip).
Dan ini bukanlah metode dan manhaj salaf, karena manhaj salaf di dalam menilai pemikiran seseorang dari ahlus sunnah adalah dengan tahqiq dan verifikasi yang jelas, menelusuri sumbernya secara jelas dan bertabayun dan tatsabut atas berita yang sampai, serta membawa ucapan-ucapan yang mujmal kepada yang tafshil, membawa perkataan yang samar kepada yang muhkam, dst. Apabila mereka mendapatkan kesalahan maka mereka nasehati dulu kesalahan tersebut, dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka meminta tolong kepada yang mampu untuk menjelaskannya.
n. Bodoh terhadap implementasi al-Wala` wal Baro`
Ini merupakan salah satu kebodohan mereka yang sangat menonjol, mereka tidak memahami hakikat al-Wala` wal Baro` dan penerapannya. Semua yang menyimpang dari kaum muslimin, betatapun tingkatnya maka diperlakukan dengan baro` secara sempurna seakan-akan mensikapi orang kafir. Sikap seperti ini telah ditengarai oleh Fadhilatusy Syaikh DR. Nashir ‘Abdul Karim al-‘Aql hafizhahullahu yang mana beliau berkata :
“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian pula sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.). Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian pula para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.
Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas as-Sunnah, baginya wala` dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mukminin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama, mayoritas mereka, bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.”
Lalu beliau hafizhahullah melanjutkan :
هذه القاعدة اختلت عند كثير من ضعيفي العلم وقليلي الفقه في الدين والجهلة بمذهب السلف, حتى يعض مدعي السلفية وقعوا في هذا, فإنهم يعادون على البدعة عداء كاملا, وقد تكون البدعة غير مخرجة من الملة وقد تكون بدعة جزعية ليست متكاثرة في الشخص. كما أنهم قد يعادون على المعصية عداء كاملا أو على المخالفة والخطأ عداء كاملا. وهذا خطأ يجب أن يحذروا غيرهم من أن يعلموا بهذه القاعدة. والآن نرى من نتائج تطبيق ذلك ما يحدث بين شباب أهل السنة مع الأسف من نزاعات في أمور حول الدين والاجتهاديات وحول الدعوة إلى الله عز و جل. نجد أنهم يتنازعون في هذا ويطبقون على خصومهم والمخالفين من أهل السنة البراء الكامل, يبغضونهم في ذلك ويستبيحون الكلام فيهم والتشهير بهم ويحتسبون عند الله الدعوة ضدهم والتشهير بهم والتحذير منهم. هذا الخلاف الأصل الشرعي, نعم ما فيهم من أخطاء ينبه عليهم مع الاعتراف بفضلهم وقدرهم بما فيهم من فضل وقد, هذا أمر ضروري وإلا تقع فتنة بين المؤمنين.
“Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang pula kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana pula mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.
Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah ahlus sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama ahlus sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.
Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kadar yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan), atau jika tidak, maka akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.”[9]
Dan inilah salah satu bentuk kebodohan mereka, apabila mereka telah membenci kepada suatu kaum, maka kebencian mereka akan mereka terapkan secara sempurna, dan mereka halalkan kehormatan saudara-saudara mereka sesama ahlus sunnah, mereka makan daging-nya, mereka injak-injak kehormatannya, dan mereka tutup jalan-jalan ifadah kepada para du’at yang terzhalimi ini. Tidak ada sedikitpun rasa wala`, mahabbah ataupun pembelaan mereka kepada saudara mereka sesama ahlus sunnah, dan mereka terapkan kepada para du’at ini kebencian dan baro` yang sempurna yang seharusnya hanya diterapkan kepada kaum kuffar. Wal’iyadzubillah.
o. Tidak mau melakukan tabayyun (verifikasi) dan tatsabbut (cek ricek) terhadap berita yang sampai
Menurut mereka, selama berita itu datang dari kalangan mereka yang mereka nilai semuanya tsiqoh dan terpercaya beritanya, maka tidak ada perlunya melakukan tabayyun dan tatsabbut. Apalagi jika berita yang sampai pada mereka adalah kejelekan atau aib seseorang yang mereka musuhi atau benci, maka tidak ada perlunya melakukan tabayyun, selama ambisi dan obsesi mereka untuk mencaci maki lawannya dapat terpenuhi dengan mudah. Karena manhaj mereka telah terasuki oleh kaidah al-Ghoyah tubarrirul Wasiilah (tujuan itu menghalalkan segala cara). Dengan demikian, berita apapun yang sampai pada mereka, dengan cara apapun, entah dengan identifikasi dan penggalian informasi ala agen rahasia, ataukah tajassus dan mencari-cari kesalahan musuhnya dari kaset-kaset rekaman atau selainnya.
Al-’Allamah ’Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullahu ditanya :
في قبول خبر الثقة, هل يقبل مطلقا دون التثبت؟ كان يقول: إن فلانا مثلا سبّ وطعن في الصحابة, هل يجب علي أن آخذ بهذا القول وأحكم به أم لا بدّ من التثبت؟
Dalam masalah menerima berita dari orang yang tsiqoh (terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Orang itu berkata misalnya : sesungguhnya Fulan telah memaki dan mencela sahabat, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut?
Syaikh hafizhahullahu menjawab :
لا بدّ من التثبت!!!
“Harus tatsabbut!!!”
Syaikh hafizhahullahu ditanya kembali :
ولو كان القائل أحد المشائخ؟
“Walaupun yang berkata adalah salah seorang masyaikh?”
Syaikh hafizhahullahu menjawab :
لا بدّ من التثبت!!! القائل إذا عزاه إلى كتاب له والكتاب موجودو فمنكن للناس الرجوغ لهذا الكتاب, أما مجرد كلام من غير أن يذكر له أساس لاسيما إذا كان الشخص الموجودين. أما إذا كان من المتقدمين وهو معروف بالبدعة أو من أئمتها هذا كل يعرفه, يعني مثل جهم بن صفوان, وكذا كل من قال أنه مبتدع فإن كلامه صحيح, أي إنسان يقوله, وأما بعض الناس الذين يحصل عندهم خطأ وعندهم جهود عظيمة في خدمة الدين فيحصل منهم زلة, فبعض الناس يمكن أنه يقضي عليه بمجرد هذه الزلة.
“Tetap harus tatsabbut!!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada bukunya dan bukunya harus ada, sehingga memungkinkan ummat untuk merujuk kepada buku ini. Adapun perkataan belaka yang tidak ada dasarnya atas yang disebutkan olehnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari orang terdahulu dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk pembesarnya, hal ini semua orang mengetahuinya, yaitu seperti misalnya Jahm bin Shofwan, maka setiap orang yang mengatakan ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu orang yang menyatakannya demikian. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka sebagian orang memungkinkan untuk menghukuminya atas ketergelincirannya saja.”[10]
p. Tidak mau membawa ucapan yang mujmal kepada yang mufashshol
Apabila sampai kepada mereka ucapan dari para du’at ahlus sunnah yang mereka musuhi yang bersifat mujmal yang zhahirnya tampak mereka fahami sebagai suatu kebatilan, padahal yang dimaksud oleh pengucap tidaklah sebagaimana yang dimaksudkan oleh mereka para penghujat dan pencela ini. Mereka memahaminya secara bathil dikarenakan rusaknya pemahaman mereka yang dibakar oleh kebencian dan permusuhan belaka. Sungguh benar ucapan seorang penyair :
و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم
Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ?
Oleh sebab pemahamannya yang sakit
Suatu waktu mereka mencela dengan caci maki yang bertubi, menuduh dan menggelari pada du’at salafiyyah dengan tuduhan dan gelar-gelar yang buruk, hanya karena mereka mendapatkan beberapa buku dari sebuah penerbit yang banyak menerbitkan terjemahan asatidzah dan du’at ahlis sunnah, mereka mendapatkan dua buku yang bercorak dengan pemahaman takfiri, yaitu buku “Thoghut” karya Abdul Mun’im Mustofa Halimah hadaahullahu seorang takfriy yang sekarang berdomisili di negeri Kafir, tepatnya di London Selatan, Inggris dan buku “Penjelasan Pembatal Keislaman” (terjemahan dari at-Tibyan fi Nawaqidhil Islam) karya Syaikh Sulaiman Nashir al-‘Ulwan saddadhullohu yang terpengaruh oleh pemahaman takfiriy.
Dengan girang dan gembiranya, mereka mendapatkan amunisi untuk menembakkan caci makinya kepada ustadz dan da’i yang terjemahan buku mereka banyak diterbitkan oleh penerbit tersebut. Mereka lemparkan celaan celaan kotor kepada para du’at ini sembari menggeneralisir umpatan dan makiannya kepada du’at lainnya yang tidak ada hubungannya dengan penerbitan ini. Parahnya, mereka berdusta dengan membuat opini bahwa seakan-akan para du’at salafiyyah ini ridha dan rela dengan diterbitkannya kedua buku bermasalah ini. Aduhai, sungguh murah sekali kedustaan itu di sini mereka, sebagaimana seorang penyair berkata :
فالبهت عندكم رخيص سعره حثوا بلا كيل ولا ميزان
Di sisi kalian dusta itu sangat murah harganya
Tanpa ditakar dan ditimbang mereka menghamburkannya
Padahal, apabila mereka mau bertabayyun dulu, atau bersikap sedikit tenang dan tidak mendahulukan hawa nafsu mereka yang membinasakan, niscaya mereka tidak akan jatuh kepada kedustaan dan fitnah-fitnah keji. Tidakkah mereka melihat, bahwa para du’at tersebut berlepas diri dari buku-buku bermasalah tersebut dan segala pemikiran yang menyimpang. Adakah mereka membaca bantahan terhadap buku “Thaghut” tersebut yang ditulis oleh saudara kami, Ali Hasan Bawazir dan dimuat di Majalah as-Sunnah dalam dua edisi, lalu pada edisi berikutnya disokong dan ditaqrizh oleh al-Ustadz Abu Ihsan?!! Adakah mereka membaca kritik dan bantahan terhadap buku Syaikh Sulaiman al-Ulwan tersebut di Majalah al-Furqon?! Juga bantahan-bantahan di kajian-kajian dan majelis ilmiah mereka?! Lantas mengapa mereka mereka lebih mendahulukan kejahatan hawa nafsu mereka dan ambisi serta obsesi mereka untuk bermusuhan dan mencaci maki yang disertai dengan kedustaan dan fitnah-fitnah?!! Aduhai, alangkah benarnya ucapan seorang penyair ini kepada mereka :
احذر لسانك أن يقول فتبتلى إن البلاء موكل بالمنطق
Jaga lidahmu untuk berujar dari petaka
Sebab petaka itu bergantung pada ucapan
Dan masih banyak lagi kejadian serupa, yang mana mereka lebih senang membawa suatu hal yang samar dan mujmal, namun mereka tidak mau mengembalikannya kepada yang muhkam dan mufashshol dari sikap para du’at dan asatidzah yang mereka cela dan maki itu.
Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu ditanya dengan pertanyaan berikut : “Jika didapatkan pada seorang alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara zhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci ) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?”
Syaikh hafizhahullahu menjawab :
نعم! يحمل على المفصل, ما دام هو شيئ موهم, فالشيئ الواضح الجلي هو المعتبر
“Iya, dibawa kepada yang mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, sedangkan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.”[11]
q. Mengimplentasikan dan mempermainkan ilmu Jarh wa Ta’dil sekehendak hati mereka
Aduhai, betapa bangganya mereka, dengan menyebut bahwa website mereka terdahulu sebagai website “Jarh wa Ta’dil”. Mereka senantiasa mengklaim bahwa upaya caci maki dan tindakan ghibah mereka yang haram sebagai upaya penjagaan terhadap agama, sebagai upaya pemeliharaan dan bagian dari ilmu Islam yang mulia, yaitu Jarh wa Ta’dil.
Mereka permainkan ilmu ini sekehendak hati mereka, dan mereka implementasikan dan aplikasikan menurut hawa nafsu mereka, mereka jarh dengan jarh yang tidak pernah dikenal oleh ulama salaf sebelumnya, dan mereka ta’dil siapa saja yang sepakat dan selaras dengan pendapat dan pemahaman mereka.
Ulama salaf dahulu, mereka sangat waro’ (berhati-hati) terhadap penggunaan ilmu ini. Mereka sangat berhati-hati sekali agar jarh mereka kepada seorang perawi bukanlah berangkat dari hawa nafsu, dari kedengkian, hasad, subyektifitas dan permusuhan. Namun mereka melakukannya dengan ketakwaan, kehati-hatian dan keikhlasan dalam rangka memelihara dan menjaga agama ini.
Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullahu di dalam al-Muuqizhoh (hal. 82) mengatakan :
والكلام في الرواة يحتاج إلى ورع تام وبراءة من الهوى والميل
“Membicarakan para perawi memerlukan sifat waro’ yang sempurna dan terlepasnya diri dari hawa nafsu dan kecenderungan (subyektifitas)…”
Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu berkata di dalam al-Iqtiraah (hal. 302) :
أعراض المسلمين حفرة من حفر النار وقف على شقيرها طائفتان من الناس : المحدثون والحكام
Kehormatan kaum muslimin adalah sebuah jurang dari jurang-jurang neraka. Berdiri di tepi jurang tersebut dua kelompok manusia, yaitu para muhaddits (yang membicarakan para rawi) dan hukkam (penguasa)…”
Imam Ibnu Sholah berkata di dalam Ulumul Hadits (hal. 350-351) : “Wajib bagi orang yang berkecimpung dalam hal ini (Jarh wa Ta’dil) untuk bertakwa kepada Alloh, bertatsabbut (melakukan cek dan ricek) dan menjauhi sikap tasahul (sikap memudahkan) agar ia tidak melakukan jarh kepada seorang yang sebenarnya selamat (dari hal tersebut) dan tidak menyifati orang yang tidak bersalah dengan sifat yang buruk, kemudian sifat jelek tersebut akhirnya tertempel pada orang tersebut sampai hari kiamat…
Apa yang kami riwayatkan atau sampaikan, bahwa Yusuf bin al-Hasan ar-Razi ash-Shufi datang menemui Ibnu Abi Hatim yang dalam keadaan sedang membaca buku karyanya tentang al-Jarh wat Ta’dil. Yusuf berkata : “Berapa banyak dari mereka (yaitu orang yang tercantum di dalam buku al-Jarh wat Ta’dil tersebut) telah menempati tempat-tempat mereka di Surga sejak seratus atau dua ratus tahun yang lalu, sementara anda masih sibuk menyebut-nyebut mereka dan melakukan ghibah kepada mereka.” (Mendengar hal ini), ‘Abdurrahman (bin Abi Hatim) pun menangis. (karena dari sikap waro’ dan ketakwaan beliau).
Juga telah sampai kepada kami, bahwa ketika Ibnu Abi Hatim sedang membaca kitabnya al-Jarh wat Ta’dil kepada khayalak, maka disampaikan kepadanya kabar dari Yahya bin Ma’in bahwa beliau berkata : ”Sesungguhnya kita telah mencela orang-orang yang mungkin saja mereka telah menempati tempat-tempat mereka di surga sejak dua ratus tahun lebih.” (Mendengar hal ini), ’Abdurrahman (bin Abi Hatim) pun menangis, kedua tangannya gemetar sehingga jatuhlah kitab (yang sedang dibacanya) dari tangannya.”[12]
Subhanalloh, adakah mereka yang terobsesi dan mempermainkan ilmu yang mulia ini, yaitu ilmu al-Jarh wat Ta’dil memiliki ketakwaan, waro’, ilmu, sikap obyektivitas, kesabaran, sifat tatsabbut dan semisalnya?!! Ataukah mereka adalah orang-orang yang bersikap diluar dari ketakwaan, tidak memiliki sifat waro’, gegabah, tidak pernah tatsabbut, lancang dan gemar merusak kehormatan seorang muslim?!! Allohu Syaahid ’ala maa yashna’un
Bersambung ……
Dipublikasikan oleh ibnuramadan.wordpress.com
Disusun oleh Abu Salma al-Atsari
© Copyright bagi ummat Islam. Silakan menyebarkan risalah ini dalam bentuk apa saja selama menyebutkan sumber, tidak merubah content dan makna serta tidak untuk tujuan komersial.
Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]

[1] Lihat : Masaa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi : Majmu’atu min ba’dhi asyrithoti Syaikh Shalih Alu Syaikh; Mufarroghoh (Dihimpun dari sebagian kaset Syaikh Shalih Alu Syaikh secara transkrip), didownload dari www.sahab.org
[2] Lihat : Masaa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi, op.cit.
[3] Lihat : Masa`il fil Hajr, op.cit, Nashihatu Lisy Syabab
[4] Lihat : Masa`il fil Hajr, op.cit, Nashihatu Lisy Syabab
[5] Lihat : al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah wat Tahdziru minal Bida’ wa Bayanu Khatariha oleh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad, bab Bid’atu Imtihani an-Naasi bil Asykhosh, cet. I, 1425, Maktabah Malik Fahd al-Wathoniyah, hal. 58.
[6] Lihat : Durus Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq, op.cit.
[7] Lihat Ithaaful ‘Ibaad bi Fawa`idi Duruusi asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad al-‘Umaisaan, Darul Imam Ahmad, 1426/2005, hal. 61.
[8] Lihat : Taysirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan karya al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ditahqiq oleh Syaikh ’Abdurrahman bin Mu’alla al-Luwaihiq, cet. 1, 1422/2001, Mu`assasah ar-Risalah, Beirut, hal. 822, juz 27, surat 53, ayat 38
[9] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama`i fit Tahdziiri min Jamaa’ati al-Hajri wat Tabdi’, dihimpun oleh Majmu’atu min Thullabatil ’Ilmi, cet. II, 1424, hal. 38-39
[10] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama’, op.cit., hal. 33-34
[11] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama’, op.cit., hal. 34
[12] Nukilan-nukilan di atas dinukil dari Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan, karya al-Ustadz Firanda bin Abidin as-Soronji, cet. I, 1427/2006, Pustaka Cahaya Islam, hal. 38-41; Bacalah buku ini karena banyak sekali faidah dan manfaat yang bisa dipetik darinya,hanya saja mereka yang dengki dan terbakar semangat permusuhan tidak menyukai buku semacam ini dan membuat tuduhan yang macam-macam terhadap penulisnya raghmun unufihi

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.