-->

12 September 2012

Kaidah serta Pokok-Pokok Manhaj Salaf.


 

 Kaidah-kaidah berikut ini menggambarkan tentang prinsip-prinsip manhaj talaqi (sistem mempelajari,mengkaji dan memahami) aqidah islamiyah, dan tentang pokok-pokok bantahan terhadap aqidah selain Islam melalui dalil-dalil Al-Qur'an serta petunjuk-petunjuk nabawi.

      Ketika firqah-firqah mulai bermunculan di tengah barisan kaum muslimin dengan segala pemikirannya yang berbeda-beda dan saling berlawanan, maka masing-masing pelakunya berupaya melakuka pengadaan dalil-dalil serta argumentasi-argumentasi,-yang sebenarnya hanya membebani kebanyakan mereka saja- untuk mempertahankan teori-teori filsafat hasil temuan mereka masing-masing yang mereka yakini kebenarannya.

Diantara sejumlah dali lyang mereka kemukakan ialah : 

mengaku-ngaku sebagai pengikut as-salafu ash-shalih.

        Oleh karena itu seyogyanyalah diadakan penjelasan mengenai kaidah-kaidah manhaj salaf, supaya dibedakan antara orang-orang yang sekedar mengaku-ngaku salafi dengan orang-orang yang sebenar-benarnya pengikut as-salafu ash-shalih.

Kaidah Pertama Mendahulukan Syara' atas Akal. [1]

       Kaidah yang paling pertama ialah ittiba' kepada as-salafuash-shalih dalam memahami, menafsiri,mengimani serta menetapkan sifat-sifat ilahiyah

tanpa takyif (bertanya atau menetapkan hakekat bagaimananya)dan

tanpa ta'wil (membuat perubahan lafadz/maknanya), juga dalam menetapkan persoalan-persoalan aqidah lainnya,dan menjadikan generasi pertama sebagai panutan dalam berpikir maupun beramal.

        Jadi pertama kali Al-Qur'an dan Hadits, selanjutnya berqudwah (mengikuti jejak dan mengambil suri teladan) kepada para shahabat nabi, sebab ditengah-tengah merekalah wahyu turun. Dengan demikian, mereka (para shahabat) adalah orang orang yang paling memahami tafsir Al-Qur'an, dan lebih mengerti tentang ta'wil (tafsir) Al-Qur'an dibandingkan dengan generasi-generasi berikutnya.Mereka satu dalam hal ushuluddin, tidak berselisih mengenainya, dan tidak terlahir  dari mereka hawa nafsu-hawa nafsu dan bid'ah[2].

      Dari sanalah lahir ciri yang dominan pada pengikut manhaj salaf. Mereka adalah ahlul hadits, para ulama penghafal (hafidz) hadits, para perawi serta para alim hadits yang ittiba' pada atsar. (Itulah jalannya kaum mukminin). Allah Subhanahu waTa'ala berfirman :

" Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk tempat kembali". [An-Nisaa' : 115].

         Jadi mereka berbeda dengan kaum mutakallimin(ahlul kalam), sebab mereka (pengikut manhaj salaf)selalu memulai dengan syara'. kitab was-sunnah,selanjutnya mereka tenggelam dalam memahami serta merenungi nas-nash Al-Qur'an dan sunnah tersebut.

           Pengikut Manhaj salaf menjadikan akal tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu'alaihi wa sallam. Dari sini maka akal yang sehat tidak mungkin bertentangan dengan naql (nash)yang shahih. Apabila terjadi pertentangan, maka nash yang shahih harus didahulukan atas akal,sebab nash-nash Al-Qur'an bersifat ma'shum(terjaga) dari kesalahan, dan nash-nash sunnah bersifat ma'shum (terjaga) dari hawa nafsu.

           Sesuatu yang masuk akal menurut manhaj salaf adalah sesuatu yang sesuai dengan Al-Kitab was-Sunnah, sedangkan sesuatu yang tidak masuk akal(majhul) adalah sesuatu yang menyalahi Al-Qur'an was Sunnah. Petunjuk (hidayah) ialah sesuatu yang selaras dengan manhaj shahabat, dan tidak ada jalan lain untuk mengenali petunjuk serta pola-polas hahabat melainkan atsar-atsar ini.[3]

        Prinsip-prinsip aqidah bagi pengikut manhaj salaf nampak jelas pada keimanannya terhadap sifat-sifat dan Asma' Allah Ta'ala ; tanpa membuat penambahan, pengurangan, ta'wil yang menyalahi zhahir nash dan tanpa membuat penyerupaan dengan sifat-sifat mahluk, tetapi membiarkannya.

     sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Kitabullah Ta'ala serta sunnah Nabi-Nya shallallahu'alaihi wa sallam. Sedangkan kaifiyah (hakikat bagaimana)nya mereka kembalikan kepada Dzat yang telah memfirmankannya sendiri.[4]

         Melalui konteks ini kita mesti paham cara-cara salaf dalam menjadikan akal tunduk kepada nash, baik nash itu berupa ayat Al-Qur'an maupun berupa sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan sebaliknya. Berbeda dengan manhaj kaum ahlulkalam dari kalangan Mu'tazilah, Maturidiyah danAsy'ariyah yang lebih mendahulukan akal daripada nash. Sedangkan nash mereka ta'wil kan hingga sesuai dengan akal.

      Tentu saja hal ini berarti memperkosa nash agarsesuai tuntutan akal. Padahal mestinya hukum hukum akal-lah yang wajib diserahkan keputusannya kepada nash-nash al-Kitab maupun Sunnah. Jadi,apa saja yang ditetapkan oleh Al-Qur'an danSunnah, kitapun harus menetapkannya. Sedangkan apa saja yang dikesampingkan oleh keduanya,kitapun harus menolaknya.

       Sesungguhnya, ta'wil menurut kaum ahlu kalam dan kaum filosofis pada umumnya mengandung tuntuta untuk menjadikan akal sebagai sumber syara',mendahului nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah. Oleh karena itu jika terlihat ada pertentangan antara nash dengan akal, maka mereka akan mendahulukanakal, dan akan segera bergegas melakukan ta'wilterhadap nash tersebut hingga sesuai dengantuntutan akal. Akan tetapi manhaj salafkebalikannya, syara' didahulukan dan akal mengikutkepada syara'.

  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyebutkan bahwa kaum salaf menyerahkan hukum kepadaayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi. Mereka merasa cukup dengan nash-nash tersebut. Merekajadikan pemahaman-pemahaman akalnya patuh pada nash-nash itu, sebab "akal" menurut Kitabullahdan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallamada sesuatu yang bisa ada jika ada pemilik(pelaku)nya. "Akal" bukanlah dzat yang bisa berdiri sendiri seperti anggapan kaum filosof.[5]

      Akal tidak mampu meliputi kenyataan-kenyataan yang dijelaskan oleh Kitabullah maupun sunnah Rasul-Nya shalallahu 'alaihi wa sallam. Bahkanakalpun tidak kuasa untuk meliputi segenap hakikatalam kongkrit yang telah ditemukan berdasarkan enemuan-penemuan ilmiah akal itu sendiri. Maka bagaimana mungkin akal akan dapat menjangkau kenyataan alam ghaib ?.Oleh sebab itulah, wajib hukumnya untuk pasrah kepada nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah. Wajibmengimani segala apa yang dinyatakan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, baik yang menyangkut alam ghaib maupun alam nyata. Lebih khusus lagi ayat-ayat yang menyangkut sifat-sifat ilahiyah, maka kita wajib mengimaninya tanpa ta'wil (mengubah maknaatau lafalnya) dan tanpa ta'thil (menolak hakikatnyaatau menafikannya).

Kaidah KeduaTidak Mempertentangkan Nash-Nash Wahyu Dengan Akal.

          Semua firqah ahli kalam yang suka menakwilkan sifat-sifat Allah, ternyata satu sama lain saling bertentangan, dan secara diametral pendapat pendapatnya saling berlawanan sama sekali.

       Untuk membuktikan hal itu, kita tidak perlu pergi terlalu jauh, lihat saja misalnya, di dalam kitab Kubraal-Yaqiniyat al-Kauniyah bagaimana cara ahlu kalam yang tercermin pada ta'wil nya terhadap sifat istiwa'dalam firman Allah Ta'ala.

"Artinya : (Yaitu) Rabb Yang Maha Rahman, yang bersemayam (ber-istiwa) di atas "Arsy". [Thaha : 5].

Dalam kitab ini, istiwa' di ta'wil-kan dengan taslith alquwwahwa as-sulthan (menangnya kekuatan serta kekuasaan-Nya)".

       Kita perhatikan ta'wil itu berbeda bahasanya dengan ta'wil-nya kaum Asy'ariyah terhadap istiwa' tersebut yaitu istawla' (berkuasa), ta'wil yang juga dilakukan oleh kaum Jahmiyah dan Mu'tazilah. Namun model ta'wil dalam buku Kubra al-Yaqiniyat itu tidak menggunakan istilah istawla, melainkan dengan istilahTaslith al-Quwwah wa as- Sulthan.

      Tentu ini merupakan kata-kata yang bejat, sebab konsekwensi dari kata-kata itu menunjukan bahwa'Al-Arsy tidak masuk dalam kekuasaan Allah,sebelum Allah ber- 'istiwa (bersemayam) di atasnya.Penulis buku tersebut (Said Ramdhan al-Buthi, -pen-) bisa terperosok pada pemahaman yang rusak.

     Hal ini dikarenakan ia tidak ridha terhadap apa yang ditempuh oleh kaum salaf dalam mengimani sifat'istiwa. Walaupun sebenarnya hanya mengemukakan pernyataan madzhab khalaf (lawan salaf, pen), yakni orang-orang Asy'ariyah. Akan tetapi kenyataannya ia setuju dengan madzhab tersebut. Hal itu terbukti dengan pernyataannya :"Itulah makna yang jelas, yang bisa dimengerti menurut bahasa Arab"[6]

      Selanjutnya ia melegitimasi manhaj kalam dengan pernyataannya sebagai berikut : "Mereka menafsirkan al-Yad (tangan) dalam ayat lain dengan"kekuatan dan kemurahan", al-'Ain (mata) dengan"pertolongan dan pemeliharaan", dan menafsirkan al-Ishba'ain (dua jari-jari) yang terdapat dalam hadits riwayat Muslim dalam kitab Shahih-nya No. 2654,

dengan "kehendak dan kekuasaan". Begitulah seterusnya. Mereka merubah-rubah sifat-sifat AllahTa'ala tanpa disertai sebuah dalilpun, baik dari al-Qur'an maupun as-Sunnah.

     Berdasar inilah, maka salah satu kaidah manhaj salaf ialah menolak ta'wil model ahlu kalam. Dan cukuplah bagi para pengikut manhaj salaf satu ketetapan, yaitu ilitizam kepada perintah Allah Ta'ala berikut :

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". [Al-Hujuraat : 1].

      Oleh sebab itulah, tiada dijumpai seorangpun diantara mereka yang mempertentangkan nash-nash wahyu dengan akal.  Apabila mengetahui suatu perkara dari ajaran agama, maka ia akan melihat kepadanya yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dari sanalah ia belajar, dengannyalah ia berkata, mengenainyalah ia merenung dan berpikirdan dengannyalah ia berdalil.

    Berkebalikan dengan manhaj ini, di sana di ujung seberang yang sama sekali berlawanan, berdiri tegaklah para penganut manhaj ilmu kalam yang mempercayakan sandarannya kepada ra'yu(pendapatnya). Sesudah ra'yu, mereka memperhatikan al-Qur'an dan as-Sunnah. Apabila didapati nash-nash tersebut bersesuaian dengan akal, mereka ambil nash-nash itu. Tetapi, jika mereka dapati bertentangan, maka akan mereka singkirkan atau mereka otak-atik dengan ta'wil.[7]

            Ta'wil Bisa Dibenarkan bila Maksudnya Tafsir

   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan[8]: "Sesungguhnya lafal ta'wil menurut pemahaman orang-orang yang suka bertentangan(yakni Ahlul Kalam), bukanlah ta'wil yang dimaksud dalam At-Tanzil (wahyu yang diturunkan). Bahkan bukan pula yang dikenal oleh para ulama tafsir terdahulu.

      Sesungguhnya para ulama tafsir Al-Qur'an terdahulu memahami lafal ta'wil dengan maksud tafsir. Ta'wils emacam ini dapat diketahui oleh ulama yang mengetahui tafsir Al-Qur'an. Oleh sebab itulah Imam Mujahid, imamnya ahli tafsir dan murid Ibnu Abbas,pernah menanyakan seluruh tafsir Al-Qur'an kepada Ibnu Abbas, dan Ibnu tafsir seluruhnya. Ketika beliau (Mujahid)mengatakan : "Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar ahlil-ilmi (Ar-Rasikhum fi Al-'Ilmi) jikamemahami tentang ta'wil, maka maksud ta'wil itua dalah tafsir yang telah disebutkan Ibnu Abbas padanya".Abbas pun telah menjelaskan Adapun lafal ta'wil menurut At-Tanzil (wahyu yangditurunkan), maknanya adalah "hakikat", yakni sesuatu yang menjadi asal sebuah pembicaraan.Dan itu sama dengan hakikat-hakikat yang telah diberitakan oleh Allah Ta'ala, misalnya ta'wil tentang hari akhir yang telah diberitakan oleh Allah ialah kejadian yang akan terjadi di hari akhir itu sendiri(hakikat kejadiannya). Ta'wil tentang apa yang Dia beritakan mengenai Diri-Nya itu sendiri yang Maha Suci lagi tersifati dengan sifat-sifat Maha Tinggi.Ta'wil (dalam arti hakikat) inilah yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala sendiri.

      Oleh karena itulah kaum salaf mengatakan :"Istiwa'telah dimaklumi (maknanya), sedangkan bagaimana hakikatnya itu majhul (tidak dapat diketahui)". Untuk itu kaum salaf mengistbatkan (menetapkan)pengetahuan tentang Istiwa'. Inilah yang disebut ta'wil dalam arti tafsir, yaitu memahami makna yang dimaksud oleh suatu pembicaraan, sehingga dapat merenungi, memahami dan mengerti.

Sedangkan perkataan mereka "Al-Kaif (bagaimana hakikatnya) adalah majhul (tidak dapat diketahui).Hal ini adalah ta'wil yang hanya bisa diketahui oleh Allah semata, yaitu tentang hakikat yang tiada satu mahluk pun dapat mengetahuinya".

     Pada tempat lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pula[9] : " ...... sesungguhnya yang dimaksud dengan lafal ta'wil dalam Al-Qur'an ialah hakikat suatu perkara, meskipun hakikat itu sama dengan makna yang ditunjukan dan dipahami dari zhahirnya lafadz".

    Terkadang pula yang dimaksud dengan ta'wil adalah penafsiran dari suatu perkara serta penjelasan maknanya, walaupun penjelasan makna itu sama dengan lafal perkataan tadi. Dan istillah ta'wil dengan makna kedua inilah yang menjadi istilahnya mufassir terdahulu seperti Mujahid dan lain-lain. Tetapi istilah ta'wil kadang juga dimaksudkan dengan pengalihan suatu lafal dari kandungan makna yang rajih menuju kemungkinan makna yang marjuh disebabkan ada suatu dalil yang mengiringinya.

       Pengkhususan istilah ta'wil dengan makna terakhirini hanya ada pada pembicaraan kaum muta'akhirin.Adapun para shahabat, tabi'in dan semua imam-imam kaum muslimin, seperti imam yang empat dan imam yang lain, mereka tidak menghususkan istilah ta'wil tersebut untuk makna yang terakhir itu, tetapi yang mereka kehendaki dengan ta'wil adalah makna yang petama dan kedua.

   Oleh karena itulah, sekelompok orang-orang muta'akhirin berprasangka bahwa lafal (kalimat)ta'wil pada Al-Qur'an atau Hadits hanya bermakna khusus menurut pengertian terakhir tersebut, seperti dalam firman Allah :

"Artinya : ...Dan tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : "Kami beriman kepada ayat-ayatyang mutasyabihat. Semuanya itu dari sisi Rabbkami". [Ali-Imran : 7].

Mereka meyakini bahwa waqaf (bacaan berhenti)pada ayat diatas adalah pada :"Artinya : .. Dan tidak ada yang mengetahui ta'wilnyamelainkan Allah".

    Sebagai akibat dari prasangka mereka tersebut,mereka terjebak dalam keyakinan bahwa ayat-ayat seperti di atas dan hadits-hadits Nabi, mempunyai makna-makna yang berlainan dengan makna yang langsung bisa dipahami dari lafal nash tersebut.

      Sementara itu makna yang dikehendaki dari nash tersebut tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah saja.Bahkan Malaikat yang turun membawa Al-Qur'an yakni Jibril, dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihiwa sallam pun tidak bisa mengetahui makna-maknanya.Begitu pula nabi-nabi lain, para shahabat serta para tabi'in.

Menurut keyakinan mereka, bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika membaca firman-firman Allah berikut:"Artinya : (Yaitu) Rabb Yang Maha Rahman, yang bersemayam (ber-istiwa) di atas 'Arsy". [Thaha : 5].

"Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yangbaik". [Faathir : 10].

"Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka". [Al-Maidah: 64].

 Dan ayat-ayat lainnya, beliau Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengerti makna-maknanya. Bahkan(menurut persangkaan mereka) beliau sendiripun tidak memahami kata-katanya sendiri ketika bersabda :

"Artinya : Rabb kita turun ke langit dunia pada tiap tiap malam ...." [Hadits Riwayat Bukhari, Juz 2: 25].

       Bahkan makna yang langsung dapat dimengerti dari nash di atas, tidak dapat dimengerti kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selanjutnya mereka beranggapan bahwa cara-cara semacam ini adalah caranya kaum salaf".

     Kemudian pada tempat yang lain lagi, Syaikhul IslamIbnu Taimiyah berkata[10 ]:

"Ayat-ayat yang disebut oleh Allah sebagai ayat-ayat mutasyabihat yakni yang tidak dapat diketahui ta'wil-nya kecuali oleh Allah ; yang dimaksud "tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah" hanyalah pengetahuan tentang tafsir danmaknanya. Sebagaimana hanya ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang firman Allah :

"Artinya : (Yaitu) Rabb Yang Maha Rahman, yangbersemayam (ber-istiwa') di atas 'Arsy". [Thaha : 5].

"Bagaimana Ar-Rahman ber-istiwa' (bersemayam) ?"Beliau menjawab : "Al-Istiwa' telah dipahami(maknanya), sedangkan Al-Kaif (bagaimana hakikatistiwa' [bersemayam] tidak dapat diketahui (majhul).Beriman terhadap istiwa'-Nya wajib dan bertanya tentang "Bagaimana (hakikat)nya adalah bid'ah".Demikian pula sebelumnya, Rabi'ah dan Ibnu'Uyainah pun telah memberikan jawaban serupa dengan jawaban Imam Malik.

     Imam Malik telah menjelaskan bahwa makna istiwa'telah dipahami, sedangkan kaifiyah (cara istiwa-Nya)adalah majhul (tidak dapat dimengerti).

    Dengan demikian kaif (hakikat) yang majhul inilah diantara arti ta'wil yang tidak dapat dimengerti melainkan oleh Allah semata. Adapun makna yang dapat dipahami (diketahui) baik istiwa maupun yang lainnya, maka itu adalah ta'wil yang bermakna tafsiryang telah dijelaskan maknanya oleh Allah  Rasul-Nya.Allah Ta'ala telah memerintahkan supaya kita menghayati Al-Qur'an dan telah memberitakan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur'an untuk dipahami. Sedangkan penghayatan serta pemahaman tidak mungkin akan bisa dilaksanakan melainkan jika si pembaca menjelaskan maksud pembicaraannya. Adapun apabila seseorang berbicara dengan lafal-lafal yang mengandung banyak makna, lalu dia menjelaskan maksudnya,tentu pembicaraannya tidak mungkin bisa dipahamidan dihayati.



Kaidah Ketiga:Mencari Pembuktian Berdasarkan Ayat-ayatAl-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi.

      Mencari Pembuktian Menurut Pola-pola Al-Qur'an.

       Sesungguhnya Al-Qur'an Al-'Azhim mempunyai pola tersendiri yang khusus untuk mencari pembuktian.Barang siapa yang menempuh pola ini, niscaya ia sampai kepada kebenaran hakiki yang meyakinkan.Diantara pola Al-Qur'an yang paling utama dalam mencari pembuktian ialah memperhatikan tanda tandakebesaran Allah yang ada pada langit dan bumi, dan upaya menyingkap rahasia-rahasia mahluk Melalui ayat-ayat-Nya yang mulia.

Allah Subhanahuwa Ta'ala telah memerintahkan agar manusia berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Diantara firman Allah :"Artinya : Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir " [Al-Baqarah :219]."Artinya : (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri dan duduk, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata) : "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa api Neraka". [Ali-Imran : 191].

"Artinya : Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Diabersemayam di atas 'Arsy dan menundukkanmatahari dan bulan masing-masing beredar hinggawaktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan(mahluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) supaya kamu meyakini pertemuanmu denganRabb-mu. Dan Dialah Rabb yang membentangkanbumi, menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungaipadanya. Dan menjadikan padanya semua buahbuahanberpasang-pasangan, Allah menutupkanmalam kepada siang. Sesungguhnya pada yangdemikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)bagi kaum yang berpikir. Dan di bumi ini terdapatbagian-bagian yang berdampingan, dan kebunkebunanggur, tanaman-tanaman dan pohon kormayang bercabang dan yang tidak bercabang, disiramidengan air yang sama. Kami melebihkansebahagian tanaman itu atas sebahagian yang laintentang rasanya. Sesungguhnya pada yangdemikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)bagi kaum yang berakal". [Ar-Ra'du : 2-4].

"Artinya : Katakanlah :"Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi..." [Yunus : 101]

   Ayat-ayat yang memerintahkan untuk memikirkan kejadian alam semesta ini banyak. Ayat-ayat yang akan membangkitkan akal, menggerakkan pikiran,mengundang perhatian dan memotivasi perenungan serta penghayatan.Semua itu termasuk wasilah (sarana) terkuat untuk sampai pada pemahaman terhadap hakikat kebenaran hingga hasilnya akan memperkokoh iman dan menanamkan keyakinan yang dalam terhadap Al-Khalik yang maha Agung. Sayangnya pola Al-Qur'an ini diharamkan oleh pengikut manhaj ahlulkalam.Mereka tidak mau diikat dengan pola-pola Al-Qur'an dalam memperkokoh keimanan dan memantapkan keyakinan.

Sesungguhnya, berkaitan dengan cara memahami masalah aqidah, dalam hal ini terdapat dua manhaj yang saling berlawanan :

1. Manhaj Qur'ani Nabawi, yaitu manhaj-nyapara Rasul dan para Nabi.

2. Manhaj Falsafi 'Aqlani (memperturutkanfilsafat dan akal), yaitu manhaj-nya kaumfilosof dan kaum ahlu kalam.

Manhaj Qur'ani -sebagaimana dapat dilihat- akan menghentikan akal manusia pada hakikat kebenaran itu tuntas dan tidak akan guncang keraguan sedikitpun setelah datangnya iman dan pembenaran. Manhaj ini dengan segala keluhuran serta kekuatannya adalah manhaj yang mudah,memberikan jaminan hasil dan juga akan menambah akal semakin terbuka wawasan serta daya pandangnya.

       Sedangkan manhaj falsafi adalah manhaj yang mempunyai jalan berliku-liku yang ruwet,memusingkan akal dengan persoalan-persoalanyang membingungkan, mebebani pemikiran dengan analogi-analogi logika yang membosankan dan amat potensial untuk menjerumuskan akal pikiran kedalam lubang-lubang kesalahan yang merupakan jebakan yang dipasang oleh para penentangnya.

    Oleh sebab itulah, persoalan aqidah bagi kaum  filosof dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka dari kalangan ahlu kalam, merupakan sebuah kebingungan yang menimbulkan sangkaan sangkaan,serta membingungkan akal pikiran.Persoalan-persoalan aqidah yang berdasarkan manhaj mereka itu tidak memberikan ilmu dan tidak menambahkan keyakinan apapun. Ia adalah sebuah jalan antara al-haq dengan kebatilan yang bercampur aduk di dalamnya.

      Adapun pola-pola ahlul kalam, sebenarnya bersumber dari pola-pola filsafat, walaupun dalam prilakunya agak berbeda, sebab kaum filosof tidak mempercayai wahyu dan kenabian, sehingga mereka benar-benar bersandar pada akalnya semata. Sedangkan ahlul kalam, mereka masih mempercayai wahyu dan kenabian, hanya saja mereka berupaya untuk menjadikan wahyu tunduk pada akal. Mereka tidak mau menundukkan akalnya kepada nash-nash wahyu.

    Menurut ahlul kalam, landasan utama dalam polanya adalah mendahulukan akal atas syara'. Oleh karena itulah mereka berkonsentrasi untuk menta'wilkan nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut kemauan akal mereka dengan bertumpu pada debat dan logika.

      Jadi cara-cara mereka mirif kaum filosof. Cara-cara itu tidak akan memberikan jaminan hasil (yang benar-red) disebabkan berbaurnya khayalan-khayalan akal dalam berbagai pembahasan serta kajian permasalahannya. Dengan demikian, sebagai (hasil)akhirnya adalah kebigungan menghadapi tantangan keragu-raguan dan sama sekali tidak layak untuk memutuskan permasalahan iman dan i'tiqaad.

     Adapun pola kenabian, adalah pola Al-Qur'an itu sendiri. Tetapi, dengan uslub (cara pemaparan) yang sedikit berbeda dilihat dari segi kemudahan dan banyaknya. Namun, memiliki kekuatan petunjuk,kekokohan hujjah dan kedalaman keyakinan. Pola kenabian ini mempunyai pengaruh nyata dan jelas dalam memahamkan aqidah yang benar, dalam menyingkirkan setiap syubhat yang mengacaukan pemikiran disebabkan pengaruh bisikan-bisikan setan, dalam menanamkan keyakinan pada jiwa dan dalam menyebar luaskan sinar keimanan ke dalam relung-relung hati.



Kaidah Keempat.Berpijak Berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan Mengutamakan Pemahaman Ulama Salaf(terdahulu) dan Menjadikan Akal Mereka Tunduk kepada Nash-Nash Keduanya.



    Kaidah ini memiliki peran besar dalam pokok-pokok manhaj salaf. Inilah kaidah yang menjadi pemisah antara Ahlu Sunnah dengan Ahlul Bid'ah, walaupun semuanya mengaku mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah.

       Pengikut manhaj ahlul-kalam berseru : "Kami ittiba'kepada Al-Kitab dan As-Sunnah". Pengikut manhaj sufi juga berseru : "Kami ittiba' kepada Al-Kitab dan As-Sunnah". Pengikut manhaj salaf pun berseru :"Kami ittiba' kepada Al-Kitab dan As-Sunnah".

    Para pengikut manhaj ahlul-kalam memang mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash  Al-Qur'an dan Al-Hadits tunduk pada tuntutan akal pikiran mereka.Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah.

     Para pengikut manhaj sufiyah juga mengambil Al-Kitab dan As-Sunnah, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada pemahaman pemahaman tertentu dalam kaitannya dengan penafsiran tentang hidup dan berpaling dari kenikmatan-kenikmatan hidup.Dengan demikian mereka pun meninggalkan manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah.

        Adapun para pengikut manhaj salaf, merekalah orang-orang yang benar-benar berpijak berdasar Al-Kitab dan As-Sunnah dengan mengutamakan pemahaman ulama salaf dan menjadikan akal mereka tunduk kepada nash-nash keduanya.Mereka menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan tuntunan Al-Kitab dan As-Sunnah dan membatasi pandangan (teori) mereka tentang hidup serta kenikmatannya selaras dengan pengarahan Al-Kitab dan As-Sunnah.

      Jadi merekalah orang-orang yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, baik aqidah, manhaj, syari'ah maupun perilakunya. Dalil dari standard ini telah ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

       Berikut ini adalah penjelasan tentang manhaj shahabat yang telah mendapat ridha dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Al-Amin Shallallahu 'alaihi wa sallam.

     Pertama kali dalam menetapkan manhaj shahabat tersebut, kita mulai dengan firman Allah Tabaraka waTa'ala tentang para shahabat Rasul Shallallahu'alaihi wa sallam.

"Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang beriman dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tandatan dan mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud ......" [Al-Fath : 29]

"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi pertama tama(masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan    orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan  Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama lamanya.itulah kemenangan yang besar ". [At-Taubah : 100].



      Jadi mereka ridha terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka berupa Al-Qur'an dan berupa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah pun telah ridha kepada mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Yakni, berupa ibadah dan ketaatan yang hanya ditujukan kepada Allah semata,ittiba' kepada Rasul-Nya yang menyebarluaskan dakwah Islamiyyah serta penyebaran sunnah nabawiyyah dan pengamalannya.



Wallahu 'alam bish-shawaab



http://dear.to/abusalma

________________

footnote

[1] Qawa'id al-Manhaj as-Salafi, hal. 187. Dr. Musthafa Helmi, cet. Daar ad-Da'wah, Iskandariyah

[2] Aqa'id as-Salaf, karya Dr. Ali Sami an-Nasysyar, hal.309, cet. Daar al-Ma'arif. Iskandariyah.

[3] Naqdhu al-Mantiq, Ibnu Taimiyah, hal. 309.

[4] Naqdhu al-Mantiq, Ibnu Taimiyah, hal. 3

[5] Majmu' Fatawa, jilid 9, hal. 279

[6] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Dar'u Ta'arudh al-Aql wa an-Naql, jilid5/382, mengatakan :"Adapun ta'wil dalam arti 'mengalihkan satu lafal dari kandungan makna yang rajih (benar) menuju kemungkinan makna yang marjuh (tidak rajih/tidak benar), seperti 'istiwa menjadi istaula, dan seterusnya maka hal ini menurut kaum salaf dan para imam jelas merupakan kebatilan.Hakikatnya tidak ada sama sekali, bahkan hal ini meruapak tahrif (mengubah)kata-kata dari yang semestinya dan termasuk ilhad (ingkar) terhadap Asma'Allah serta ayat-ayat-Nya."

[7] Risalah al-Furqan Baina al-Haq wa al-Bathil, Ibnu Taimiyah, hal.47.

[8] Dar'u Ta'arudh Al-Aql wa An-Naql, Ibnu Taimiyah, jilid 5/381-383, Tahqiq. DrMuhammad Rosyad Salim.

[9]. Dar'u Ta'arudh Al-Aql wa An-naql. Ibnu Taimiyah, jilid I/9.

[10]. Dar'u Ta'arudh Al-Aql wa An-naql. Ibnu Taimiyah, jilid I/14-15.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.