-->

16 September 2012

MENGENAL FIRQAH AL-AHBASY DAN PENYIMPANGAN-PENYIMPANGANNYA


Al-Ahbasy adalah sebuah firqah yang dibentuk pada akhir abad ke-14 H dengan pendirinya yang bernama Abdullah bin Muhammad Al-Harari Al-Habasyi, dia berasal dari Harawi, Ethiopia. Kemudian ia pindah dari Ethiopia menuju Suriah, dimana di negara ini dia menetap dan pada akhirnya dia pindah ke Lebanon dimana dia mulai menyebarkan pemikiran-p

emikirannya pada masyarakat. Jumlah pengikutnya pun meningkat dan inti pemikirannya -yang terdiri dari campuran pemikiran Jahmiyyah (sebuah firqah yang menolak sifat-sifat Allah), Mu'tazilah (sebuah firqah filsuf yang berbeda manhajnya dengan ahlussunnah), sufi penyembah kuburan- mulai menyebar. Dia mengeluarkan pemikirannya dengan membentuk grup-grup debat dan menulis kitab-kitab dan pamflet yang berisi pemikiran-pemikirannya.

Beberapa inti dari pemikiran mereka adalah :


1. Dalam masalah iman, mereka mengikuti madzhab Irjaa' (mereka yang meyakini bahwa dosa tidak berpengaruh pada keimanan seseorang selama ia masih beriman) yang sudah dilarang dalam Islam.


Ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in dan yang setia mengikuti manhaj mereka hingga hari ini, bahwa iman adalah pengucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pengamalan dengan anggota tubuh. Imam Syafi'i berkata, "Diantara ijma' para sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dan kami temui adalah bahwa iman adalah perkataan, keyakinan dan perbuatan, satu sama lain saling mendukung dan 3 hal ini tidak bisa lengkap tanpa yang lainnya."


2. Mereka memperbolehkan meminta tolong dan meminta perlindungan dari yang sudah mati, dan berdo'a kepada mereka selain kepada Allah. Perbuatan ini sudah termasuk syirik akbar menurut banyak ayat-ayat Al-Qur'an, Sunnah dan ijma' kaum muslimin. Allah Ta'ala berfirman mengenai kaum kafir Quraisy :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". [QS Yunus : 18]

dan firmanNya :

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. [QS Faathir : 13-14].

Dari kedua firman Allah diatas, menunjukkan bahwa firqah Ahbasy menyerupai kaum kafir Quraisy bahwa mereka mengetahui Allah Ta'ala adalah Pencipta, Dia yang mampu mendatangkan mudharat maupun nikmat tetapi kaum kafir Quraisy tetap menyembah berhala mereka dan mencari wasilah yang mereka berkeyakinan bahwa orang-orang shalih yang sudah mati tersebut akan mendekatkan diri mereka pada Allah.


3. Dalam pandangan mereka, Al-Qur'an bukan kalamullah dalam makna yang sebenarnya, padahal sudah diketahui dari banyak ayat dan hadits bahwa Allah Ta'ala berbicara sesuai dengan kehendak dan keagunganNya. Allah Ta'ala berfirman :

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [QS At-Taubah : 6]

dan firmanNya :

سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا
Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah perkataan Allah. Katakanlah: "Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami." [QS Al-Fath : 15]

4. Mereka membolehkan takwil di dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah yang mengandung nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala (catatan : takwil disini lebih pada tahrif yaitu menafsirkan sesuatu dalam makna yang sangat bertolak belakang dengan makna yang diinginkan ayat, atau dengan kata lain penyelewengan/perubahan makna). Padahal seorang muslim didalam memaknai ayat-ayat yang mengandung nama dan sifat-sifat Allah haruslah mengimani dan memaknai sesuai dengan makna ayat tanpa mempertanyakan kaifiyah, mengubah makna, menolak sifat-sifat Allah atau menyamakan sifat-sifat Allah dengan makhlukNya. Sesuai dengan firman Allah Ta'ala :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS Asy-Syuura' : 11].
Imam Asy-Syafi'i berkata, "Aku beriman kepada Allah dan kepada segala hal yang datang dariNya sebagaimana apa yang Dia maksud. Aku beriman kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan kepada segala hal yang datang dari lisannya sebagaimana yang Rasulullah maksud."
Imam Ahmad berkata, "Kami beriman kepadanya, kami tidak menolak apa-apa yang datang dari lisan Rasulullah, dan kami tidak menjelaskan mengenai Allah melebihi apa yang Dia jelaskan mengenai DzatNya."

5. Mereka menolak bahwa Allah diatas makhluk-makhlukNya. Sudah menjadi kepercayaan setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, seperti yang telah diindikasikan didalam Al-Qur'an dan hadits bahwa Allah istiwa' diatas 'Arsy, diatas makhluk-makhlukNya sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dariNya. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa' di atas Arasy. [QS Al-A'raaf : 54]

firmanNya :

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS Al-Baqarah : 255]

firmanNya :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [QS Faathir : 10]

dan firmanNya :

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). [QS An-Nahl : 49-50]
Dan telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di dalam banyak hadits contohnya hadits mengenai mi'raj Nabi serta banyak perkataan dari salafus shalih.

6. Dalam masalah fiqih, mereka mengklaim bahwa mereka mengikuti madzhab Syafi'i padahal banyak fatwa-fatwa ulama mereka yang menyimpang dari kebenaran. Diantaranya adalah, mereka memperbolehkan berjudi dengan orang kafir untuk mencuri harta mereka, mereka menghalalkan mencuri barang dan hasil tanaman dengan syarat pencurian ini tidak menyebabkan kesengsaraan, mereka menghalalkan riba ketika bertransaksi dengan orang kafir, mereka menghalalkan pembelian tiket lotere yang mana hal ini telah diharamkan dalam syari'at, mereka memperbolehkan melihat wanita non-mahram bahkan dengan syahwat, mereka memperbolehkan ikhtilat, dan masih banyak lagi fatwa-fatwa aneh mereka yang menurut Islam adalah termasuk dosa besar tetapi menurut mereka diperbolehkan. Semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari kesesatan mereka yang bisa membuatNya murka.


7. Mereka mencela dan memfitnah ulama-ulama besar yang menyeru tauhid dan sunnah dan berpegang dengan manhaj salaf bahkan mereka tidak segan-segan mengkafirkan para ulama yang menjadi musuh dakwah mereka, tujuan mereka adalah agar manusia menjauh dan lari dari dakwah salaf. Contohnya, ulama yang kerapkali mereka cela dan fitnah adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-, bahkan Abdullah Al-Ahbasy membuat satu kitab khusus mengenai Ibnu Taimiyyah, disana ia menisbatkan hal-hal dan perkataan-perkataan aneh kepada Ibnu Taimiyyah yang mana Ibnu Taimiyyah berlepas diri dari perkataan-perkataan itu, serta mengarang-ngarang kedustaan atas nama beliau dan akhirnya ia tidak segan-segan mengkafirkan beliau. Semoga Allah Ta'ala membalas kedustaan tersebut dengan balasan yang setimpal. Dan ulama yang juga sering menjadi sasaran celaan dan fitnah mereka adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah yang dengan sebab beliau, Allah Ta'ala telah hilangkan syirik dan bid'ah dari semenanjung Arabia. Tetapi firqah yang penuh kebencian dan kerusakan ini telah menebarkan kedustaan, menunjukkan mereka punya penyakit hati, hasad, dengki dan benci terhadap ulama-ulama yang mendakwahkan al-haq.


Berikut fatwa dari Lajnah Da'imah mengenai firqah Al-Ahbasy : (dengan diringkas)


1. Bahwa sesungguhnya firqah Al-Ahbasy ini adalah firqah yang sesat, yang keluar dari jama'ah kaum muslimin (ahlussunnah wal jama'ah), dan kewajiban mereka adalah kembali pada kebenaran yang dahulu para sahabat,tabi'in dan tabiut tabi'in tempuh dalam segala bab dalam agama, lebih-lebih dalam masalah aqidah dan amal, dan itu lebih baik bagi mereka dan lebih kekal.


2. Tidak boleh berpijak atau mengambil fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh ulama mereka, karena mereka membolehkan beragama dengan perkataan yang rancu bahkan menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah dan mereka berpegang dengan perkataan yang jauh dari kebenaran lagi rancu terhadap sebagian nash syar'i, dan semua itu mereka upayakan agar menambah kepercayaan pada kaum muslimin agar berpijak pada fatwa-fatwa mereka.


3. Tidak boleh percaya dengan ucapan mereka disetiap tempat dan harus menghindari dan menjauhi golongan yang sesat ini, jangan sampai terjebak dalam perangkap mereka walaupun mereka beri nama yang sebagus mungkin, dan menyampaikan nasehat pada para pengikutnya yang telah tertipu dengannya serta menjelaskan bobroknya aqidah dan pemikiran mereka.


Lembaga Riset Studi Ilmu dan Fatwa, Fatwa no. 19606

Anggota : Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan.
Wakil Ketua: Syaikh Abdul Aziz 'alu-Syaikh.
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Referensi fatwa diambil dari :

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=286813


Akhir kata, semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari segenap kesesatan dan tipu daya syetan berikut para pengikutnya.


Allahu a'lamu bishawab


Artikel diambil dan diterjemahkan dari :

- http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=articles&id=138114
- http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=articles&id=138115

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.