-->

01 September 2012

Mantan Kiai NU : Membongkar Kesesatan Kyai-Kyai Pembela Bid’ah Hasanah



Ditulis Oleh: H. Mahrus Ali

Sesungguhnya, salah satu ujian terbesar umat Islam dewasa ini adalah permasalahan " Bid'ah “ (sesuatu yang diada-adakan dalam urusan agama, -red-), bahkan hal ini telah menyebar ke berbagai negara Islam. Jarang sekali kita jumpai suatu tempat yang disitu terlepas dari masalah bid'ah dan
sangat sedikit manusia yang selamat darinya. Perkara bid'ah merupakan masalah yang besar, sangat berbahaya, dan termasuk "pos"nya kekufuran. Pelaku bid'ah telah mencabut hukum Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- [Lihat: Al Bid'atu Asbabuha wa Mudlooruha oleh Mahmud Syaltut. Hal. 45] karena itu dia tidak mau berusaha untuk taubat.
Telah berkata seorang Shohabat Rosul, Ahli tafsir Al Qur’an dari kalangan shohabat, Abdullah bin Abbas -Rodliallohu Anhu- ,
“ Sesungguhnya diantara perkara-perkara yang paling dibenci di sisi Allah adalah bid'ah." [Dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi asy-syafi'i dalam Al Kubro (4/316) ]
Berkata pula ulama Salaf ,Imam Sufyan Ats Tsauri -Rahimahulloh-
"Bid'ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, pelaku maksiat masih ingin bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku bid'ah tidak ada keinginan untuk bertaubat dari kebid'ahannya" [Dikeluarkan oleh Imam Al Lallika'i asy-syafi'i dalam Syarah Ushul Itiqod Ahlussunnah wal jamaah ( 1/133) dan Abu Na'im dalam Al Hilyah (7/26) dan Al Baghowi dalam Syarhussunnah (1/216) ]
Karena pelaku bid'ah mengira perbuatannya baik, dia mengira amalan bidahnya adalah tuntunan agama, dan dengan perbuatan bid'ah itu dia bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Oleh karena itu pelaku bid'ah tidak pernah berfikir untuk bertaubat kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dari perbuatannya bahkan dengan kebid'ahannya tersebut ia mengharapkan pahala. Sebagaimana firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
"Maka apakah orang yang dijadikan (syaithon) menganggap baik pekerjaannya yang buruk dia meyakini pekerjaannya itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithon)? " (QS. Faathir: 8)
Berbeda dengan orang yang berbuat maksiat, ia merasa sedikit amalan sholehnya dan jelek perbuatannya, dan dia yakin dia berbuat salah, ada penyesalan didalam hatinya, sehingga jika datang nasihat padanya segera ia akan bertaubat.
Akan tetapi keduanya, pelaku bid'ah dan pelaku maksiat, apabila mau bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa dan menerima taubat hambaNya dan memaafkan kejelekan-kejelekannya. Kita minta kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- keselamatan, 'afiyah, taufiq dan hidayah.
Di antara nikmat terbesar yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- anugerahkan kepada umat ini adalah disempurnakannya agama ini sebagaimana dalam firman-Nya:
“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS. al-Maidah [5]: 3)
Tidaklah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- meninggalkan dunia ini melainkan telah meninggalkan kaum muslimin dalam jalan yang terang benderang, malam-nya seperti siangnya. Semua permasalahan yang dibutuhkan oleh hamba telah dijelaskan dalam syari'at Islam, sampai-sampai permasalahan yang dipandang remeh oleh kebanyakan manusia seperti adab buang hajat.
Imam Ibnu Katsir berkata, "Ini merupakan kenikmatan Allah yang terbesar kepada umat ini, di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan nabi selain nabi mereka. Oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai penu-tup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia, maka tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang dia haramkan, tidak ada agama selain apa yang dia syari'at-kan, dan setiap apa yang dia beritakan adalah benar dan jujur, tiada ke-dustaan di dalamnya.” [Tafsir al-Qur'anil Azhim 3/23]
Dengan sempurnanya Islam, maka segala perbuatan bid'ah dalam agama berarti suatu kelancangan dan makar terhadap syari'at dan perbuatan bid'ah adalah “ralat, koreksi “ terhadap pembuat syari'at (yakni Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) bahwa masih ada permasalahan yang belum dijelaskan.
Imam Malik bin Anas -rahimahulloh- mengeluarkan perkataan emas tentang ayat ini. Beliau berkata:
"Barang siapa melakukan bid'ah dalam Islam dan menganggapnya baik (bid'ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- mengkhianati risalah, karena Allah Ta'ala berfirman, 'Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.' Maka apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi ) bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga tidak termasuk agama.” [Al Itishom 1/64-65 Imam Syatibi, tahqiq Salim al-Hilali ]
Camkanlah baik-baik perkataan berharga dari imam yang mulia ini, niscaya Anda akan mengetahui betapa bahayanya perkara bid'ah dalam agama.
Demikian juga Imam Syafi'I -rahimahulloh- , beliau sangat meyakini akan kesempurnaan agama Islam. Alangkah bagusnya ucapan Imam Syafi'i tatkala mengatakan:
"Tidak ada suatu masalah baru pun yang menimpa seorang yang memiliki pengetahuan agama kecuali dalam al-Qur'an telah ada jawaban dan petunjuknya.” [Ar-Risalah hlm. 20]
Kemudian Imam Syafi'i -rahimahulloh- membawakan beberapa dalil untuk menguat-kan ucapannya di atas, di antaranya adalah firman Allah dalam Surat an-Nahl[16]:89:
“ dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserat diri .”
Maka, inilah satu lagi buku rangkaian dari seri mantan Kiai NU, berupaya meluruskan kekeliruan-kekeliruan yang diyakini sebagian pihak, mudah-mudahan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memberikan hidayah kepada Muslimin terutama di Indonesia ini: hidayah kepada sunnah yang shahih dan hidayah diatas sunnah supaya kita tegar diantara gelombah fitnah syubhat dan syahwat. Dan Sungguh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- Maha Penerima Taubat. Seri Mantan Kiai NU : Membongkar Kesesatan Kyai-Kyai Pembela Bid’ah Hasanah
Penulis : H. Mahrus Ali
Pengantar : Prof. Dr. HM. Roem Rowi MA ( Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya)
Fisik : Buku ukuran sedang, hardcover, 506 hlm
Penerbit : la Tasyuk Press
Harga Rp 85.000
Pemesanan : admin@al-aisar.com, sms : 0819.2469.325

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.