-->

03 September 2012

SA’ID HAWA (Punya Andil Menolak Sunnah)




Oleh. Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin, Lc
Dia merupakan seorang penulis yang masyur, da’i kondang dan orator ulung, namun sangat disayangkan coretan penanya banayk mengajak kepada ajaran Tasaawuf, fanatik madzhab, dan mebatasi ilmu fikih pada madzab empat saja sehingga beliau melazimkan setiap muslim dalam beragama agar menganut madzab tertentu dengan prinsip taklid buda. Akan tetapi sangat ironis banyak orang yang tidak mengenali syubhat-syubhatnya dan buta terhadap kesesatannya serta sebagian besar pemuda Islam tertipu dengan kepakarannya, akhirnya mereka tercemar dengan pemikirannya tanpa sadar apalagi buku-bukunya banyak beredar di tengah umat.

Pokok-pokok Pemikirannya
a. Mewajibkan beragama dengan dasar taklid
Beliau sangat menganjurkan taklid kepada madzab tertentu seraya berkata: “Umat Islam tidak perlu belajar tentang fikih kecuali cukup kepada salah seorang Imam mujtahid dan berfatwa dalam berbagai macam kasus dan permasalahan agama dengan madzhab tersebut, dengan cara demikian seorang Muslim tidak mudah tergelincir dalam beragama dan cenderung pemahaman fikihnya lebih mapan dan stabil”. [1]

b Syubhat Seputar Sunnah
Dalam kitab “Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan”, beliau berusaha menolak Sunnah secara halus dan mengajak fanatis madzhab seraya berkata: “Terdapat beberapa hadits yang dianggap lemah karena kitab-kitab yang sampai kepada kita memuat sanad-sanad yang lemah, tetapi seandainya sampai kepada kita kitab yang berbeda mungkin saja hasilnya juga berbeda. Contohnya, terdapat beberapa hadits yang dinyatakan sanadnya dhaif oleh al-Hakim dan semisalnya ternyata baru terkuak bahwa hadits-hadits tersebut shahih setelah kita mendapatkan sanad-sanadnya dari Shahih Ibnu Khuzaimah dengan jalur yang akurat, maka kita tidak boleh tergesa-gesa menolak pendapat salah seorang imam mujtahid karena dianggap pendapatnya bertentangan dengan nash-nash yang shahih, apakah mungkin seorang ulama panutan menentang kebenaran sementara hidupnya lebih banyak dengan Rasulullah dan Shahabat, dan generasi yang paling mengerti tentang ajaran Salafush Shalih.” [2]

Bukankah sikap taklid akan menimbulkan fanatik madzhab dan kejumudan beragama serta menumbuhkan berbagai macam penyimpangan aqidah dan kebid’ahan dalam beragama sehingga semua ulama membencinya, karena sikap taklid bukan jalan menuju pintu gerbang ilmu seperti yang ditegaskan Imam al-Qurthubi: “Taklid bukan ilmu untuk menuju ilmu dan bukan sarana untuk meraih ilmu baik ilmu usul maupun ilmu furu’ maka demikian itu merupakan pendapat jumhur ulama, berbeda dengan pandangan orang-orang bodoh dari kalangan Hasyawiyah dan Tsa’labiyah yang menganggap bahwa taklid sebuah jalan dan sarana untuk mengenali kebenaran dan demikian itu berhukum wajib sementara berfikir dan membahas berhukum haram”. [3]
c. Syubhat seputar aqidah
Dalam kitab “Tarbiyatuna ar-Ruhiyah”, beliau menganggap khurafat kaum sufi sebagai karamah dan membela secara membabi buta seraya berkata: “Pengingkaran karamah kaum sufi merupakan tindakan yang kurang ilmiyah dan penolakan terhadap suatu realita yang tidak pada tempatnya, terutama pengingkaran Karamah yang muncul pada anggota tharigah Rifa’iyah yang banyak timbul kejadian ajaib diantaranya; badan mereka tidak mempan dibakar dan tidak mempan dibacok pedang atau tusukan besi, dan kabarnyakan sepeti ini telah berkembang luas dimasyarakat, maka kebanyakan orang yang awalnya mengingkarinya tapi setelah melihat langsung akhirnya membenarkan keajaiban tersebut. Suatu ketika ada seoarang Nashrani bercerita kepadaku yang sebelumnya ada prang lain juga bercerita kepadaku bahwa ia menyaksikan salah seorang anggota tharikat Rafa’iyah ditusuk dengan pisau besar dari arah pungung hingga tembus ke dada kemudian pisau besar itu dicabut tidak meninggalkan bekas luka sedikitpun, sehingga keajaiban yang terjadi pada anggota Thatiqah Rafi’iyah hingga sekarang merupakan karunia (karamah) dari Allah pada generasi ini”. [4]

Bagaimana mingkin karamah dikaruniakan kepada pelaku bid’ah dan kesesatan, sementara Allah dan Rasul-Nya sangat membenci segala perbuatan bid’ah bahkan demikian itu merupakan kesyirikan dan khurafat yang menjadi faktor utama kemunduran dan kehinaan umat sehingga mereka banyak terjerumus dalam kesyirikan dan kebid’ahan, sebagaimana yang telah ditegaskan Ibnu Qayyim : “Siapa yang merenungkan kondisi alam raya de ngan baik pasti akan mendapatkan kesimpulan bahwa kebaikan yang terjadi di mika bimi ini akibat bertauhid dan beribadah kepada Allah serta mentaati Rasul-Nya, sementara segala keburukan yang terjadi baik berupa fitnah, bencana, kekeringan dan penjajahan musuh akibat penentangan kepada perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak kepada selain Allah dan Rasul-Nya”. [5]

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com
[4] Dinukil dari kitab at-Tauhid fi Masiril Amal Islami bainal Waqi’ wal Ma’mul, hal. 47 karya Abdul Aziz bin Abdullah al-Husaini yang menukil dari kitab Tarbiyatuna ar-Rahiyah, hal. 217-218 karya Sa’id Hawa

Disalin dari Buku Ensiklopedi Penghujatan Terhadap Sunnah, hal 268-271, Cetakan Pertama, Pustaka Imam Abu Hanifah-Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.