-->

02 September 2012

Salah kaprahnya Mereka Terhadap Kata '' Salafy''


Oleh Rimbun Natamarga
Seorang Salafi memiliki cara pandang sejarah Islam yang berbeda dari orang-orang kebanyakan, bahkan dari orang-orang muslim sekali pun. Ini, sayangnya, sering kali tidak disadari oleh orang yang tahu tentang Salafi dan keberadaan mereka.
Tulisan ini akan mengetengahkan sejarah awal perkembangan Islam dalam kacamata komunitas Salafi. Uraian dalam tulisan ini, jelas, adalah versi ringkas yang dapat dibawakan di sini. Seharusnya, tulisan ini dimaksud sebagai sebuah pengantar ringkas saja.
Islam Menurut Salafi
Bagi komunitas Salafi, meski berkembang dari tengah-tengah masyarakat Arab, hal itu tidak menunjukkan bahwa Islam adalah Arab. Arab pun tidak berarti Islam. Allah subhana wa ta’ala menjadikan Jazirah Arab secara umum dan Makkah-Madinah secara khusus sebagai panggung tempat Islam mengukuhkan diri sebagai agama yang sempurna dan telah Allah restui.
Selain itu, hanya nilai-nilai yang telah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya menjadi sesuatu yang baku sebagai acuan bagi para pemeluk yang datang setelah mereka. Halal dan haram, dalam kacamata seorang Salafi, telah ditetapkan dan terus berlaku sampai hari Kiamat nanti.
Meski hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda, bagi mereka yang Salafi, seorang pemeluk Islam mesti menyesuaikan diri untuk mengikuti agama yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Penemuan-penemuan, terobosan-terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dicapai dan digunakan oleh siapa pun. Tetapi Islam yang harus dipeluk tetap Islam sebagaimana yang datang pada Rasulullah dan para sahabatnya.
Menurut seorang Salafi, hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya adalah orang-orang yang telah Allah ridhai dan puji dengan pujian yang abadi. Allah telah menjanjikan mereka dengan balasan yang baik. Baca dan renungkan ayat ke-100 surat At-Taubah—ayat ini adalah salah satu landasan pasti bagi seorang Salafi untuk berpegang teguh pada Islam yang dipraktekkan kaum Salaf.
Islam Sebagai Agama Para Nabi
Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Nabi, Makkah adalah satu kota kecil yang terpencil di Jazirah Arab. Pada waktu itu, keadaan politik, sosial, ekonomi, bahkan budaya setempat banyak dipengaruhi oleh dua kekuatan besar, Romawi dan Persia. Masyarakat Arab juga biasa memandang orang-orang Kristen dan Yahudi sebagai pewaris para Nabi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kitab-kitab suci atau ahlul kitab.
Meski demikian, sebagian dari mereka pun menyadari bahwa tradisi yang dibawa oleh Nabi Ibrahim bukan seperti yang dipraktekkan orang-orang Kristen dan Yahudi itu. Agama Ibrahim adalah istilah yang dipakai untuk menyebut ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Orang-orang Arab percaya bahwa tradisi ini berbeda jauh dengan agama Kristen yang mengenal lembaga gereja dan trinitas. Mereka juga percaya bahwa agama Yahudi yang juga menganggap bahwa Uzair adalah anak Allah bukan agama Ibrahim itu.
Agama Ibrahim adalah agama tauhid yang lurus atau al-millah al-hanifiyyah. Dalam agama itu, hanya Allah ta’ala yang berhak untuk disembah. Karena itulah agama Ibrahim adalah agama monoteis yang masih murni. Akan tetapi, banyak orang menilai bahwa ajaran monoteisme seperti itu dimulai sejak Nabi Ibrahim menyampaikan risalahnya. Padahal, penilaian seperti ini tentu saja keliru. Ibrahim bukan rasul pertama yang menyerukan tauhid.
Dalam perkembangan yang terjadi, keyakinan seperti itu banyak mendapat tentangan dari pelbagai pihak. Seiring dengan proses penyebaran agama monoteis yang meluas di muka bumi ini, bentuk-bentuk penentangan yang muncul tersebut lambat laun berubah menjadi upaya-upaya penyelarasan dan pencampuran atau sinkretisme antara ajaran Islam yang datang dari Allah-utusanAllah dan tradisi-tradisi setempat serta agama-agama yang telah mapan sebelum Islam datang.
Sejarah Dakwah Muhammad
Meski sepintas sama, sejarah Nabi Muhammad bagi seorang Salafi berbeda dari sejarah Nabi Muhammad menurut Muhammad Haikal atau Karen Armstrong. Seorang Salafi memandang Nabi Muhammad sebagai seorang nabi dan rasul yang patut diteladani, bahkan difanatiki. Siapa pun dari kalangan manusia, tegas seorang Salafi, bisa ditinggalkan ucapan dan perbuatannya kecuali ucapan dan perbuatan Muhammad sang nabi.
Muhammad sendiri dilahirkan pada 570 M. Ia berasal dari salah satu keluarga terpandang di Makkah. Ayahnya adalah Abdullah, salah satu putra Abdul Muththalib. Mereka semua masih termasuk cucu-cucu keturunan Nabi Ismail ‘alaihis salam. Karena itu, mereka dihormati dan disegani oleh penduduk kota Makkah.
Di Makkah, Muhammad menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya. Ayahnya meninggal dunia sebelum Muhammad lahir. Ibunya menyusul pula ketika Muhammad baru berusia enam tahun. Ia pun kemudian dibesarkan oleh kakeknya. Setelah kakeknya meninggal dunia, pengasuhannya diambil alih oleh pamannya, Abu Thalib. Pada umur 25 tahun, ia menikah dengan Khadijah, seorang wanita saudagar yang kaya di Makkah.
Pada umur 40 tahun, Muhammad mendapatkan wahyu dalam rupa lima ayat pertama surat Al-’Alaq. Lima ayat yang dibawa Jibril itu menandai pengangkatannya menjadi seorang Nabi. Tidak lama kemudian, Jibril turun membawa lima ayat lain, lima ayat pertama surat Al-Muddatstsir, yang menandai pengangkatan Muhammad menjadi seorang Rasul. Sejak saat itu, Muhammad menerima dan menyampaikan wahyu sampai kemudian meninggal dunia pada umur 63 tahun.
Proses dakwah yang dijalaninya berlangsung dalam dua fase. Fase Makkah berlangsung selama tiga belas tahun, sedangkan fase Madinah berlangsung selama sepuluh tahun. Wahyu yang turun pun terbagi menjadi ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyah berdasarkan dua fase dakwah ini. Fase Makkah menekankan pengokohan dasar-dasar keimanan berupa akidah yang benar, sedangkan fase Madinah menjabarkan dasar-dasar keislaman berupa praktek-praktek ibadah dalam Islam secara lengkap.
Dalam fase Makkah, Muhammad bersama beberapa gelintir pengikutnya menghadapi masa-masa sulit. Dalam waktu tiga belas tahun itu, mereka mengalami penyiksaan, pengucilan, dan pengejaran. Mereka tidak leluasa untuk menjalankan shalat dan mempelajari wahyu-wahyu yang turun. Dalam dua waktu yang berbeda, Rasulullah sempat mengutus dua delegasi untuk melakukan hijrah ke negeri Abessinia atau Habasyah, di Afrika.
Para pengikut pertama Muhammad disebut dengan Assabiqun Al-Awwalun. Kebanyakan mereka terdiri dari orang-orang lemah, miskin, dan terpinggirkan dari kaum mereka. Hanya sedikit dari mereka yang berasal dari kaum terpandang, para pembesar masyarakat Makkah. Dalam keadaan seperti itu, mereka mendapatkan tawaran dari penduduk Yatsrib untuk hijrah ke sana. Yatsrib kemudian menjadi tempat tujuan Muhammad sang rasul dan para sahabatnya. Sejak saat itu, Yatsrib dikenal sebagai Madinah An-Nabi.
Dalam fase Madinah, mereka dapat menjalankan praktek-praktek ibadah dengan leluasa. Perintah untuk shaum Ramadhan, zakat, dan berhaji turun di Madinah. Demikian pula dengan perintah-perintah lain yang mengatur pelbagai hal yang ada dalam hidup sehari-hari, mulai dari urusan-urusan pidana, aspek-aspek pemerintahan negara sampai etika buang air besar, diturunkan di sana. Wahyu turun sampai lengkap pada fase ini.
Inti Dakwah Muhammad
Pada dasarnya, bagi komunitas Salafi, dakwah yang disebarkan Muhammad adalah dakwah untuk bertauhid. Bertauhid adalah menjadikan Allah ta’ala sebagai satu-satunya sembahan yang berhak disembah dan meninggalkan segalam macam sembahan selain Allah. Karena itu, kalimat La ilaha illallah diartikan sebagai tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, bukan tiada Tuhan selain Allah.
Tauhid itulah pula yang menjadi dasar dari semua praktek beragama yang diturunkan ke muka bumi ini. Bahkan, untuk mempertahankan tauhid ini, Allah memerintahkan Muhammad dan para sahabatnya untuk berperang dengan jiwa dan raga mereka.
Mencermati itu, terbayang bahwa usaha yang dilakukan oleh Muhammad Rasulullah adalah usaha menghidupkan kembali ajaran yang hampir punah. Usaha itu dapat dikatakan sebagai usaha untuk memperbarui akidah yang Allah tetapkan untuk dipegang oleh umat manusia, dari awal penciptaan sampai akhir zaman kelak.
Akan tetapi, dalam kurun waktu 23 tahun, Islam menyebar hampir ke seluruh Jazirah Arab. Misi yang Allah embankan kepadanya telah tercapai dengan sempurna. Dan setiap Salafi mempercayai ini.
Dengan ajakan untuk bertauhid dan meninggalkan kesyirikan, Muhammad sang nabi juga mengirimkan surat-surat ke beberapa penguasa di sekitar Jazirah Arab. Penguasa Romawi, Persia, Mesir adalah orang-orang yang pernah mendapatkan ajakan itu. Di antara mereka, ada yang menerima dan ada yang menolaknya.
Sebelum meninggal dunia dalam umur 63 tahun, Muhammad telah meletakkan dasar-dasar penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Semua dasar-dasar yang dimaksud adalah penting untuk dipegang oleh siapa pun yang memeluk Islam sampai hari Kiamat nanti. Kalau kita bertanya kepada seorang Salafi, niscaya mereka akan mengamini semua itu.
Pamungkas Kata
Sampai di sini, kalau kita perhatikan dan bandingkan, pandangan sejarah komunitas Salafi hampir tidak ada beda dengan pandangan sejarah kelompok-kelompok teroris. Anehnya, banyak orang secara gegabah menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok pengebom Bali I-II, Ritz-Marriot, dan Al-Qaeda adalah Salafi itu sendiri. Padahal, tidak.
Ada batas-batas tertentu yang memisahkan mereka dengan komunitas Salafi. Dan itu bisa dibuktikan lewat bukti pemikiran masing-masing mereka dan sejarah keberadaan mereka. Tulisan ini, sayangnya, tidak membicarakan pemikiran mereka yang berbeda itu.
International Crisis Group (ICG), agaknya, adalah lembaga penelitian yang berhasil menemukan perbedaan itu dan telah menuangkannya ke dalam tulisan ke khalayak publik. Ironisnya, ketepatan dan kejelian penemuan ICG itu sempat membuat Sidney Jones, direktur ICG wilayah Asia Tenggara, mendapat ancaman dari kelompok-kelompok teroris tersebut.
sumber : http://perbatasan2rimbun.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.