-->

20 Agustus 2012

Berhati-hati dari Sifat Sombong




Sesungguhnya syaithon apabila tidak sanggup untuk memalingkan dirimu dari menuntut ilmu niscaya akan datang dari pintu yang lain dan berusaha untuk membisik-bisikkan kepadamu: “Kamu adalah orang alim, kamu orang zuhud, kamu orang shalih, kamu orang yang rajin membaca atau kamu penuntut ilmu. Lihat kepada teman-temanmu, apa artinya mereka dihadapanmu, mereka tidak menyamaimu walaupun seujung kuku tangan atau seujung kuku kakimu.”

Dia (syaithon) akan berusaha mendatangimu dari pintu pujian ini. Maka berhati-hatilah kamu! Jangan sampai kamu tersembelih (dengan pujian tersebut-pent). Sungguh dia dalam posisi seperti ini telah menyesatkan dirimu dan keluargamu kecuali jika Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.

Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam Telah bersabda:
Artinya: “Tidak akan masuk jannah orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji dzarah (biji sawi) dari kesombongan.” Seseorang berkata: “Ya Rasulullah, seseorang senang terhadap sandalnya yang bagus dan pakaiannya yang bagus?” beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkn orang lain.” (HR. Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud)

Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam Menjelaskan kesombongan itu dengan dua perkara, yakni menolak kebenaran dengan tidak mau menerimanya, serta merendahkan orang lain. Tidak akan masuk ke dalam Jannah seseorang yang dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun.

Kalau demikian tatkala dalam hatimu syaithon meniupkan ruh kesombongan, ujub, keangkuhan terhadap dirimu, maka ingatlah bahwa kamu tidak memiliki apa-apa.

Telah ada sebelum kamu para ulama bagaikan gunung-gunung yang kokoh sedangkan kamu tidak lebih bagaikan kerikil.

Telah ada sebelum kamu orang-orang zuhud, ahli ibadah, orang-orang sholih dan orang alim sedangkan kamu tak ubahnya hanya sehelai rambut yang ada di punggung salah seorang dari mereka.

Terlebih jika kamu membaca perjalanan hidup para shahabat, orang-orang shalih dan perjalanan hidup para nabi dan ketika kamu membaca kisah para malaikat, maka kamu akan mendapati bahwa ibadah yang kamu lakukan itu belum seberapa dibandingkan mereka. Kalau kamu membaca perjalanan hidup para ulama, maka kamu jumpai bahwa ilmumu tidaklah seberapa jika dibanding  mereka.

Wahai saudaraku….. para penuntut ilmu semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan barakah kepadamu dan kepada ilmumu. Berhati-hatilah dari pintu syaithon yang akan menipumu. Jika dia tidak sanggup dari pintu ini maka dia akan mendatangimu dari pintu kedua. Jika dia tidak sanggup melalui pintu maka dia akan masuk melalui celah yang lain. Dia akan berusaha dengan segala cara untuk menyesatkanmu dengan kesesatan yang jauh. Dan berhati-hatilah dari jalan-jalan syaithon, dan ingatlah firman Allah Subhanahu Wata’ala:
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan membimbing mereka ke jalan Kami dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut: 69)

Berjuanglah dirimu di jalan Allah Subhanahu Wata’ala! Karena walau bagaimanapun indahnya suaramu, namun siapakah yang memberikanmu suara yang bagus tersebut? Bukankah Allah? Siapakah yang memberimu rambut yang baik? Bukankah Allah? Siapakah yang memberimu warna kulit yang indah? Bukankah Allah? Siapakah yang memberimu akal dan kecerdasan? Bukankah Allah? Siapakah yang memberimu kuat hafalan dan kuat ingatan, bukankah Allah? Tentu jawabnya adalah Ya. Kalau demikian halnya, maka apa hakmu untuk menyombongkan diri? Kamu menyombongkan diri dengan sesuatu yang tidak kamu miliki, karena semuanya datang dari Allah Subhanahu Wata’ala. Tidakkah kamu mengkhawatirkan dirimu dan tidakkah kamu mengetahui bahwa jika Allah Subhanahu Wata’ala menghendaki mengambil apa yang telah diberikan-Nya kepadamu niscaya Dia sanggup untuk mengambilnya. Dia tidak ditanya apa yang diperbuat-Nya, akan tetapi merekalah yang ditanya tentang apa yang telah mereka perbuat.

Ada seorang memberitakan kepadaku tentang kisah seorang yang aku telah melihatnya. Dia berkata: “Kemudian bangunlah orang tersebut dengan rambut yang sangat bagus dan dia menyombongkan diri dengannya. Pada suatu ketika, tanpa diduga tiba-tiba rambut yang ada disekujur tubuhnya rontok berguguran, yang ada di kepalanya, di wajahnya, di kedua tangannya, bahkan di seluruh jasadnya, bahkan yang ada pada kedua alisnya. Dan aku melihat orang tersebut pada keadaannya yang kedua.”

Allah Subhanahu Wata’ala yang memberimu keadaan yang pertama dan keadaan yang kedua. Orang yang memberitakan kepadaku adalah dapat dipercaya. Allah Subhanahu Wata’ala berbuat apa saja yang dikehendakiNya dan tidak ditanya apa yang diperbuatNya akan tetapi merekalah yang ditanya tentang apa yang telah mereka perbuat. Dan lihatlah ketika dia menyombongkan diri dengan rambutnya yang banyak dan indah, dia tidak memuji Allah Subhanahu Wata’ala, tidak bersyukur kepadaNya dan dia tidak merendahkan diri. Pemberian ini tidak menyebabkan dia menunaikan kesyukuran atas nikmat tersebut, sehingga seakan-akan dialah yang menciptakan rambutnya sendiri. Maka lihatlah bagaimana Allah Subhanahu Wata’ala mencabut nikmat tersebut. Begitu juga dengan kuatnya ingatan, apabila kamu menyombongkan diri dengannya, kamu tidak akan menduga jika tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mencabut kuatnya ingatanmu, akalmu, kecerdasanmu, hafalan, dan kepandaianmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling bodoh dan tolol di negerimu.

Rendahkanlah dirimu karena Allah Subhanahu Wata’ala! Beramallah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam

Sombong Yang Paling Buruk

Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahaby rahimahullah Ta’ala berkata:
“Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang sombong kepada manusia dengan ilmunya dan merasa dirinya lebih mulia dengan kelebihannya. Orang seperti ini tidak bermanfaat baginya ilmunya.

Sesungguhnya barangsiapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, ilmunya akan membuatnya tawadhu’, hatinya menjadi khusyu’ dan jiwanya menjadi tenang, dia akan senantiasa mawas diri tidak pernah melemah dari itu. Bahkan ia menghisab diri setiap waktu. Jika ia melalaikan dirinya, ia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan membinasakannya.

Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kebanggaan dan memimpin, dan memandang rendah kaum muslimin, serta membodoh-bodohi. maka ini adalah kesombongan yang paling besar dan tidak masuk surga orang yang di hatinya ªϑª sebesar biji dzarroh kesombongan ... لاحول ولا قوة إلا بالله ”.
(dari Kitab Al-Kabair oleh Imam Adz-Dzahaby halaman 95 cetakan Daar Ibnu Katsir)

- - - - - - - 〜✽〜 - - - - - - -



Dinukil dari: Buku ‘Isyruun Nashiha li Tholibil ‘Ilmi wa Da’ie Ilallah . Penerjemah: Abu Usamah Abdurrahman Al Lomboki “20 Mutiara Indah Bagi Penuntut Ilmu & Dai Ilallah”. Halaman 34-39. Penerbit Al-Atsary. Bogor. 2004.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.